Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih belum bisa bangkit pagi ini, Jumat (27/2/2026). Sampai pukul 09.11 WIB, indeks turun cukup dalam, minus 1,5% ke level 8.114.
Mayoritas saham kompak di zona merah: 507 saham turun, 124 naik, dan 327 stagnan. Nilai transaksi sudah tembus Rp 2,98 triliun dari 7,9 miliar saham yang diperdagangkan dalam hampir 400 ribu transaksi. Kapitalisasi pasar pun makin menjauh dari level Rp 15.000 triliun.
Masuk sesi perdagangan hari ini, IHSG diperkirakan bergerak cenderung sideways tapi dengan tekanan yang masih terasa. Setelah kemarin sempat menguat, banyak pelaku pasar memilih ambil untung (taking profit), jadi wajar kalau indeks terkoreksi.
Secara teknikal, sinyal koreksi lanjutan juga mulai kelihatan. Kemarin terbentuk pola Bearish Rising Wedge — pola kenaikan harga yang makin menyempit. Biasanya, ini dibaca sebagai tanda tenaga kenaikan mulai habis dan rawan berbalik arah.
Pola ini muncul setelah IHSG sempat jatuh di akhir Januari, lalu pelan-pelan naik lagi. Sayangnya, indeks beberapa kali gagal menembus level psikologis 8.400. Setelah gagal tembus, justru terbentuk pola wedge yang dalam teori teknikal sering berujung pada penurunan lanjutan.
Kalau skenario ini benar-benar kejadian, IHSG berpotensi turun menguji area support di kisaran 7.900–7.800. Artinya, masih ada peluang koreksi sekitar 4% dari posisi sekarang.
Dari global, sentimen juga belum ramah. United States Department of Commerce (DOC) baru saja mengumumkan bea masuk imbalan untuk impor sel dan panel surya dari Indonesia, India, dan Laos. Kebijakan ini diambil untuk melawan subsidi yang dianggap mendukung industri di negara-negara tersebut.
Mengutip Reuters, tarif subsidi yang dikenakan cukup tinggi: 125,87% untuk India, 104,38% untuk Indonesia, dan 80,67% untuk Laos.
Kombinasi tekanan teknikal dan sentimen global ini bikin pasar saham domestik masih belum bisa bernapas lega.
