JAKARTA, bfdcnews.com – Konflik yang makin panas di Timur Tengah bikin harga minyak dunia melonjak. Dampaknya? APBN kita ikut-ikutan tertekan. Pemerintah sekarang ada di posisi serba salah: harga BBM jangan sampai naik, tapi anggaran juga makin berat.
Lembaga riset Center of Economic and Law Studies (Celios) ikut angkat suara soal kondisi ini. Lewat Instagram resminya, Senin (2/3/2026), mereka nyeletuk, “BBM please jangan naik, tapi duitnya dari mana?”
Celios bilang, pemerintah harus siap ambil keputusan yang nggak enak. Bahkan, mereka menyarankan program-program andalan kampanye dikaji ulang, demi menyelamatkan kas negara.
Harga Minyak Naik, Defisit Ikut Melebar
Menurut hitungan Celios, kenaikan harga minyak itu dampaknya langsung ke defisit APBN.
“Setiap harga minyak naik 1 USD per barel, defisit nambah Rp6,8 triliun,” tulis mereka.
Kalau situasinya makin buruk, Celios mensimulasikan potensi pelebaran defisit bisa tembus Rp340 triliun. Angka yang nggak kecil.
Mau Tambal Defisit Pakai Utang?
Biasanya, kalau defisit melebar, pemerintah nutupnya lewat utang. Tapi sekarang cari utang juga nggak gampang.
Celios bilang, risiko global lagi tinggi. Kalau risiko naik, bunga ikut mahal. Investor pun jadi mikir dua kali buat beli surat utang kita. Artinya, biaya berutang bisa makin berat.
Efek Domino dari Selat Hormuz
Lonjakan harga minyak ini nggak lepas dari ancaman gangguan di Selat Hormuz, jalur penting distribusi minyak dunia.
Data dari International Energy Agency (IEA) menunjukkan ekspor minyak dari kawasan itu besar banget. Tahun 2025 misalnya:
-
Arab Saudi: 5,4 juta barel per hari
-
Irak: 3,3 juta barel
-
UEA: 2 juta barel
-
Iran: 1,7 juta barel
Sebagian besar mengalir ke Asia:
-
China: 4,6 juta barel
-
India: 2,1 juta barel
-
Negara Asia lainnya: 6,2 juta barel per hari
Kalau jalur ini terganggu, pasar langsung panik.
Celios: Stop Dulu MBG dan Kopdes MP
Menghadapi tekanan fiskal ini, Celios blak-blakan. Mereka menyarankan pemerintah menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes MP).
“Dalam ekonomi ada istilah trade-off. Sekarang yang paling penting jaga daya beli dan inflasi. Bukan jagain program janji kampanye,” tulis mereka.
Menurut Celios, kalau MBG dihentikan sekarang, masih bisa hemat sekitar Rp279 triliun. Anggaran itu bisa dialihkan buat meredam dampak inflasi dan menjaga ekonomi tetap stabil.
Masalah Lama: Ketergantungan Impor BBM
Di luar urusan anggaran, Celios juga menyinggung akar masalahnya: Indonesia masih kecanduan impor BBM.
Mereka menilai kita kalah cepat dalam:
-
Mengembangkan transportasi publik
-
Mengurangi porsi energi fosil
-
Mencari alternatif energi yang lebih tahan krisis
Momentum krisis ini, kata mereka, harusnya jadi pengingat keras buat beresin strategi energi nasional.
“Please pak, pajak kita dipakai yang bener,” tutup Celios dalam unggahannya.
