Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa pemerintah sudah mulai mengimpor minyak mentah dari Amerika Serikat secara bertahap.
Bahlil menjelaskan, sekitar 25% pasokan minyak mentah Indonesia biasanya berasal dari Timur Tengah dan harus melewati Selat Hormuz, yang saat ini ditutup oleh Iran.
“Sekarang sudah mulai jalan. Bertahap, kan nggak bisa sekaligus semua datang, karena daya simpanan kita terbatas,” kata Bahlil saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Kamis (4/3).
Impor minyak dari AS ini bagian dari kesepakatan Agreement on Reciprocal Tariff (ART) antara Indonesia dan AS. Dalam kesepakatan tersebut, Indonesia berkomitmen membeli minyak mentah, BBM, dan LPG senilai USD 15 miliar.
Meski harga minyak dan gas dunia sedang melonjak akibat ketegangan AS-Israel-Iran, Bahlil menekankan kesepakatan ini tetap dinegosiasikan agar harganya lebih ekonomis.
“Harga itu kan harga pasar. Sebelum transaksi pasti ada negosiasi. Saya yakin teman-teman di Pertamina dan di internal kami bisa mencari harga yang lebih baik,” jelasnya.
Selain itu, pemerintah juga tengah membangun tambahan storage minyak mentah. Dengan begitu, cadangan energi nasional bisa naik dari 21–25 hari menjadi sekitar 90 hari atau 3 bulan.
“Masalah kita sekarang ada di storage. Makanya sekarang kita buat storage tambahan. Kalau nggak gini, kita nggak bisa berpikir ke depan,” tegas Bahlil.
Selain minyak mentah dari AS, Indonesia juga masih mengimpor BBM dari Singapura. Bahlil meyakini pasokan BBM tetap aman karena Singapura punya beberapa alternatif sumber minyak selain Timur Tengah, termasuk dari Afrika, Angola, Brazil, Malaysia, bahkan Amerika.
“Selat Hormuz itu cuma 20,1 juta barel per hari yang lewat. Konsumsi global jauh lebih besar, ratusan juta barel per hari. Jadi masalah ini bisa diatasi dengan mencari alternatif pasokan,” pungkasnya.