JAKARTA – Kondisi kelas menengah di Indonesia sering diibaratkan seperti generasi sandwich. Di satu sisi mereka dianggap cukup mampu seperti kelas atas, tapi di sisi lain juga tidak mendapat banyak bantuan seperti kelompok berpenghasilan rendah. Akibatnya, tekanan yang mereka rasakan sekarang semakin besar.
Bukan cuma jumlahnya yang mulai menyusut, daya beli kelas menengah juga pelan-pelan tergerus. Kalau kondisi ini terus berlanjut, konsumsi domestik yang selama ini jadi penopang ekonomi Indonesia bisa ikut melambat.
Bank UOB Indonesia menilai salah satu cara untuk memperbaiki kondisi ini adalah dengan memperkuat sektor manufaktur. Sektor ini dinilai bisa membantu memulihkan daya beli masyarakat sekaligus mendorong ekonomi nasional.
Ekonom ASEAN UOB Indonesia, Enrico Tanuwidjaja, mengatakan pembukaan lapangan kerja di sektor manufaktur—terutama yang padat karya—bisa jadi langkah penting untuk menopang kelas menengah.
Menurutnya, tantangan ekonomi saat ini bukan hanya dari sisi produksi, tetapi juga dari sisi permintaan. Kepercayaan masyarakat untuk berbelanja mulai menurun, terutama di kalangan kelas menengah.
“Problem di Indonesia dan dunia sekarang ada di sisi demand. Confidence untuk berkonsumsi menurun karena pekerjaan mulai tergerus,” ujarnya pekan lalu.
Karena itu, penguatan sektor manufaktur dianggap penting. Selain bisa menyerap banyak tenaga kerja, sektor ini juga berpotensi meningkatkan daya beli masyarakat. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi bisa lebih tinggi dan berkelanjutan.
Ia juga menyebut beberapa sektor yang saat ini cukup menarik bagi investor asing, seperti transportasi, pergudangan, logistik, hingga pertanian.
Sementara itu, Deposit, Wealth Management and Training Head UOB Indonesia, Emillya Soesanto, mengungkapkan jumlah kelas menengah di Indonesia memang terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2021, jumlah kelas menengah mencapai sekitar 57,3 juta orang atau 21,5% dari total populasi. Angka ini turun menjadi 47,9 juta orang (17,1%) pada 2024, lalu kembali menyusut menjadi sekitar 46,7 juta orang atau 16,6% pada 2025.
Penurunan ini jadi sinyal yang perlu diwaspadai. Pasalnya, kelas menengah punya peran besar dalam perekonomian nasional, karena menyumbang sekitar 81,5% dari total konsumsi ekonomi Indonesia.
