BFDCnews.com – Jakarta. Sejumlah bank besar di Indonesia lagi kompak melakukan buyback saham di tengah tekanan harga yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir. Menurut analis, langkah ini bisa jadi sinyal kalau bank-bank tersebut ingin membantu mendongkrak harga sahamnya.
Beberapa bank yang ikut aksi buyback ini antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), PT Bank Mandiri Tbk, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI).
Dalam sepekan terakhir, BCA dan BNI sama-sama mengumumkan rencana buyback yang akan dimintakan persetujuan lewat Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST). Nilainya cukup besar:
-
BCA berencana buyback hingga Rp5 triliun
-
BNI menyiapkan sekitar Rp905 miliar
Sementara itu, Bank Mandiri dan BRI sebenarnya sudah lebih dulu memulai buyback secara bertahap sejak akhir tahun lalu. Nilainya masing-masing sekitar Rp1,17 triliun untuk Mandiri dan Rp3 triliun untuk BRI.
Menurut sejumlah analis, aksi buyback dari bank-bank blue chip ini bisa dilihat sebagai pesan ke investor bahwa fundamental perusahaan masih kuat, meskipun harga sahamnya sedang tertekan.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai buyback biasanya cukup efektif untuk mendorong harga saham dalam jangka pendek.
Menurut Nico, kalau melihat prospek bisnis dan potensi valuasi ke depan, aksi seperti ini memang bisa membantu mengangkat harga saham.
Meski begitu, ia tetap mengingatkan investor untuk tidak terlalu gegabah. Pasalnya, pasar saham Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh sentimen global, termasuk konflik geopolitik.
Menurutnya, buyback memang menjadi sentimen positif. Tapi investor tetap harus ingat bahwa pergerakan pasar sering kali masih mengikuti arus sentimen global.
Ia juga menyarankan agar bank melakukan buyback secara bertahap, supaya setelah naik, harga saham tidak kembali turun terlalu cepat.
Pandangan serupa juga disampaikan analis RHB Sekuritas, Andrey Wijaya. Menurutnya, buyback bisa memberi dampak positif, terutama jika dilakukan saat valuasi saham sedang relatif murah.
Kalau dilakukan di harga yang rendah, buyback bahkan bisa menciptakan nilai tambah bagi para pemegang saham.
Andrey juga melihat kombinasi antara buyback dan dividen yang tetap tinggi membuat saham bank besar saat ini terlihat lebih menarik untuk dikoleksi dibandingkan beberapa sektor lain.
Selain itu, menurutnya, langkah buyback juga cukup wajar dilakukan saat pasar sedang volatil karena bisa membantu meredam tekanan jual di pasar.
Dari sisi perusahaan, Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan bahwa buyback dilakukan untuk menjaga struktur permodalan serta stabilitas perdagangan saham BNI.
Menurutnya, langkah ini juga bisa menambah kepercayaan investor terhadap kinerja dan strategi perusahaan.
Okki memastikan bahwa pelaksanaan buyback tidak akan berdampak signifikan terhadap kondisi keuangan maupun operasional BNI. Ia juga menegaskan bahwa posisi permodalan dan likuiditas BNI saat ini masih sangat memadai.
Dengan fundamental yang masih solid, ia menilai investor tidak perlu terlalu khawatir.
Nantinya, saham hasil buyback akan disimpan sebagai treasury stock. Saham tersebut bisa dijual kembali di Bursa Efek Indonesia (BEI) atau digunakan untuk program kepemilikan saham bagi karyawan maupun manajemen perusahaan.
Hal yang sama juga disampaikan oleh EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Heryn. Menurutnya, aksi buyback dilakukan untuk menjaga kepercayaan pasar dan investor terhadap BCA.
Ia menambahkan, langkah ini juga bertujuan membantu menjaga stabilitas harga saham di BEI.
Hera memastikan bahwa jumlah saham free float di pasar tidak akan turun di bawah 7,5% dari total saham tercatat. Sementara jumlah saham yang dibeli kembali oleh BCA juga tidak akan lebih dari 10%.
Meski ada aksi buyback, pada penutupan perdagangan saham pekan ini seluruh saham bank besar masih berada di zona merah.
Penurunan terdalam selama sepekan dialami oleh BMRI, disusul BBRI, BBCA, dan BBNI.
-
BMRI ditutup di Rp4.750
-
BBRI di Rp3.510
-
BBCA di Rp6.875
-
BBNI di Rp4.240
Tekanan pada saham bank besar ini sebenarnya sudah terjadi sejak beberapa minggu terakhir. Menurut Andrey, salah satu penyebabnya adalah meningkatnya net sell investor asing, yang dipicu oleh penurunan rating dari Fitch, kondisi global, serta pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini.
