JAKARTA, BFDCnews.com — Sejumlah ekonom menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini cenderung memburuk dibandingkan kuartal sebelumnya. Hal ini terungkap dari Survei LPEM FEB UI Semester I 2026 yang melibatkan puluhan ahli ekonomi.
Dalam survei tersebut, 41 dari 85 responden (sekitar 48%) menilai kondisi ekonomi Indonesia memburuk. Sementara 32 ekonom (38%) melihat kondisi ekonomi tidak banyak berubah. Hanya 12 responden (14%) yang merasa ekonomi justru membaik.
Dalam laporan survei disebutkan bahwa rata-rata respons berada di angka -0,39. Angka ini menunjukkan kecenderungan para ekonom yang menilai kondisi ekonomi saat ini sedang melemah atau setidaknya stagnan. Tingkat keyakinan responden terhadap penilaian tersebut juga cukup tinggi, yakni 7,37 dari 10.
Temuan ini juga sejalan dengan hasil survei sebelumnya yang dilakukan pada Oktober 2025 dan Maret 2025. Artinya, dalam tiga survei terakhir selama sekitar 18 bulan, para ekonom masih melihat ekonomi Indonesia belum menunjukkan perbaikan yang signifikan.
Tekanan inflasi dinilai makin meningkat
Selain soal kondisi ekonomi, para ekonom juga menilai tekanan inflasi kini makin terasa dibandingkan tiga bulan sebelumnya.
Sebanyak 57 dari 85 responden (67%) mengatakan inflasi meningkat. Sementara 23 responden (27%) menilai inflasi relatif tidak berubah, dan hanya 5 responden (6%) yang merasa tekanan inflasi justru menurun.
Rata-rata respons tercatat di angka +0,71, yang menunjukkan kecenderungan kuat bahwa inflasi sedang naik. Kenaikan inflasi ini dikhawatirkan bisa menggerus daya beli masyarakat, karena harga barang dan jasa ikut meningkat.
Angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan survei sebelumnya yang berada di +0,47. Tingkat keyakinan responden terhadap penilaian ini juga cukup tinggi, yaitu 7,60 dari 10.
Pasar tenaga kerja masih terasa lesu
Dari sisi pasar tenaga kerja, para ekonom juga melihat kondisinya masih belum terlalu membaik.
Sekitar 44 responden (56%) menilai pasar tenaga kerja semakin ketat. Lalu 30 responden (35%) mengatakan kondisinya tidak banyak berubah. Hanya 11 responden (13%) yang menilai pasar kerja mulai lebih longgar.
Rata-rata respons berada di -0,55, yang menunjukkan pasar kerja cenderung stagnan dengan tingkat kekhawatiran yang cukup tinggi. Skor keyakinan responden terhadap penilaian ini juga mencapai 7,46 dari 10.
Biasanya, kondisi pasar tenaga kerja yang melemah berkaitan dengan naiknya angka pengangguran dan lambatnya pertumbuhan upah. Dampaknya bisa langsung terasa pada pendapatan rumah tangga.
Dalam laporan tersebut bahkan disebutkan bahwa kombinasi ekonomi yang melemah dan inflasi yang meningkat bisa memunculkan risiko stagflasi, yaitu kondisi ketika ekonomi stagnan tetapi harga-harga tetap naik.
Lingkungan bisnis juga ikut melemah
Survei ini juga menunjukkan bahwa lingkungan bisnis dinilai semakin memburuk dibandingkan tiga bulan sebelumnya.
Sebanyak 38 responden (45%) menilai kondisi bisnis lebih buruk, bahkan 14 responden (16%) mengatakan situasinya jauh lebih buruk. Sementara 25 responden (29%) merasa kondisinya tidak berubah.
Hanya 8 responden (9%) yang menilai lingkungan bisnis justru membaik.
Rata-rata respons tercatat di angka -0,67 dengan skor keyakinan 7,66 dari 10. Angka ini bahkan lebih rendah dibandingkan survei sebelumnya yang sempat berada di -0,45. Artinya, sentimen positif yang sempat muncul sebelumnya ternyata tidak bertahan lama.
Secara keseluruhan, para ekonom melihat kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih berada di jalur yang sama seperti hasil survei sebelumnya. Perubahan yang terjadi dinilai tidak terlalu besar di sebagian besar indikator.
Namun satu hal yang cukup menonjol adalah meningkatnya tekanan inflasi. Para ekonom kini semakin yakin bahwa kenaikan inflasi memang sedang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Survei ini sendiri dilakukan pada 24 Februari hingga 9 Maret 2026 secara daring. Total ada 85 ekonom yang menjadi responden, berasal dari berbagai latar belakang seperti akademisi, lembaga riset, think tank, sektor swasta, hingga organisasi dan institusi multinasional.
