akarta, BFDCnews.com — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan pagi ini dengan penguatan pada Selasa (17/3/2026). Di awal sesi, IHSG naik sekitar 1% ke level 7.094,5.
Pada pembukaan pasar, tercatat 325 saham menguat, 106 saham melemah, dan 527 saham bergerak stagnan. Nilai transaksi sejauh ini mencapai sekitar Rp230,8 miliar, dengan volume 432,5 juta saham yang diperdagangkan dalam 29.200 transaksi. Sementara itu, kapitalisasi pasar naik menjadi sekitar Rp12.542 triliun.
Hari ini juga menjadi hari perdagangan terakhir di Bursa Efek Indonesia sebelum libur Lebaran 2026 (Ramadan 1447 H). Namun bagi banyak investor, performa IHSG selama Ramadan tahun ini mungkin bukan sesuatu yang ingin dikenang.
IHSG “babak belur” selama Ramadan
Berdasarkan catatan CNBC Indonesia, sejak awal Ramadan pada 19 Februari 2026 hingga penutupan perdagangan 16 Maret 2026, IHSG sudah turun sekitar 15%.
Angka ini cukup kontras dibandingkan tren beberapa tahun terakhir. Dalam lima tahun terakhir, IHSG justru sering menguat selama Ramadan. Misalnya pada Ramadan 2025, IHSG bahkan sempat naik sekitar 3,8%.
Selain itu, frekuensi penutupan di zona merah juga sangat dominan tahun ini. Dari total 18 hari perdagangan selama Ramadan, IHSG hanya berhasil menguat lima kali. Artinya, sekitar 72% hari perdagangan berakhir di zona merah.
Pergerakan indeks juga turun cukup dalam. Jika sehari sebelum Ramadan IHSG masih berada di sekitar 8.310, pada penutupan Senin kemarin indeks sudah turun ke 7.022,88.
Banyak sentimen negatif menekan pasar
Sepanjang Ramadan tahun ini, investor juga harus menghadapi berbagai sentimen negatif, baik dari dalam negeri maupun global.
Beberapa faktor yang ikut menekan pasar antara lain:
-
Penurunan outlook rating dari Moody’s dan Fitch Ratings
-
Kekhawatiran soal defisit APBN
-
Hingga konflik Iran melawan Israel dan Amerika Serikat yang pecah pada 28 Februari 2026
Pasar bahkan sempat terpukul cukup dalam pada 4 Maret 2026, ketika IHSG anjlok 4,57% setelah harga minyak dunia melonjak hingga menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak 2022.
Gejolak MSCI hingga konflik geopolitik
Tekanan terhadap IHSG sebenarnya sudah mulai terasa sejak awal Ramadan, salah satunya akibat keputusan MSCI yang membekukan indeks untuk pasar saham Indonesia. Situasi ini kemudian direspons oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan sejumlah langkah reformasi pasar.
Namun setelah isu MSCI mulai mereda, pasar kembali diguncang oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, terutama perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Dalam perkembangan terbaru, beberapa sekutu AS dilaporkan menolak permintaan Presiden Donald Trump untuk mengirim kapal perang guna mengawal kapal tanker di Selat Hormuz.
Penolakan ini memicu kritik dari Trump, yang menilai sekutu Barat kurang menunjukkan dukungan meski selama ini mendapat bantuan dari Washington.
Sementara itu, konflik antara AS–Israel dan Iran kini sudah memasuki minggu ketiga dan belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.
Kondisi ini juga membuat Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia, masih sebagian tertutup. Situasi tersebut ikut memicu kenaikan harga energi global dan meningkatkan kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi.
