Rencana Bebas Defisit 3% Bisa Bikin Ekonomi Goyah, CSIS: Hati-hati, Modal Asing Bisa Kabur
Jakarta – Pemerintah lagi ngebahas wacana merombak aturan defisit APBN maksimal 3% dari PDB. Peneliti senior CSIS, Deni Friawan, bilang kalau ini bisa bikin pondasi ekonomi Indonesia goyah. Menurut Deni, batas defisit 3% dan independensi bank sentral adalah dua pilar utama yang bikin ekonomi kita tetap stabil.
“Kalau batas 3% itu diubah, disiplin fiskal bakal hilang. Utang dan defisit bisa nggak terkendali, dan ini jelas bahaya buat ekonomi,” kata Deni.
Deni juga ngingetin sejarah pahit di masa lalu, khususnya era Orde Lama, saat negara sering boros biayai program-program besar sampai bikin krisis. Dia menekankan, konflik di Timur Tengah sekarang bukan alasan buat ngelebarin defisit seenaknya. Kalau dibandingkan pandemi Covid-19, waktu itu pelonggaran defisit masih bisa dimaklumi karena ekonomi global berhenti total. “Sekarang nggak semua negara ngelakuin itu. Kalau kita bebasin defisit, investor asing bakal kabur, SBN nggak dipercaya, rating kita bisa turun,” jelas Deni.
Menurutnya, wacana ini muncul karena pemerintah pengen ambil jalan gampang: tetap jalanin program-program baru yang makan banyak kas negara, plus subsidi energi besar yang sebenarnya nggak tepat sasaran. “Jalan pintas ini bikin risiko ekonomi makin gede. Capital outflow besar, rupiah bisa terus terdepresiasi,” tambahnya.
Purbaya Tunggu Arahan Presiden
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, bilang bakal ngikutin keputusan Presiden Prabowo Subianto soal perubahan aturan defisit di atas 3%. Aturan 3% sendiri diatur UU No. 17/2003. Saat ini, revisinya masih dibahas di parlemen.
Dia juga lagi fokus ngehitung dampak kenaikan harga minyak dunia akibat konflik Timur Tengah ke APBN. Setiap kenaikan US$1 per barel minyak bisa nambah defisit sampai Rp6,8 triliun. “Kalau perlu ambil keputusan, kita hitung dulu dampaknya,” kata Purbaya.
Soal kekhawatiran rating turun kalau defisit tembus 3%, Purbaya bilang, dibanding negara lain, angka defisit 3% itu sebenarnya wajar. Banyak negara lain punya defisit lebih tinggi. “Kalau kita belanja mendekati 3%, pertumbuhan ekonomi malah bisa lebih cepat dibanding negara lain. Misal Vietnam tahun lalu defisit 3,6%, kita masih 2,92%,” jelasnya.
