Jakarta — IHSG langsung dibuka merah pagi ini, Senin (30/3/2026). Indeks turun 1,08% atau sekitar 76 poin ke level 7.020,53. Nggak lama setelah pembukaan, tekanan makin dalam—bahkan sempat minus sampai 1,65%.
Dari pergerakan saham, yang turun ada 251, yang naik 161, dan 546 saham masih stagnan. Nilai transaksi sejauh ini sekitar Rp 404,2 miliar, dengan 341,2 juta saham berpindah tangan dalam lebih dari 53 ribu transaksi.
Kalau lihat situasinya, tekanan ke IHSG kemungkinan masih bakal berlanjut minggu ini. Padahal, di awal 2026 indeks sempat cetak rekor tertinggi sepanjang masa di 9.174,47. Artinya, sekarang IHSG sudah turun lebih dari 20% dari puncaknya—cukup dalam.
Masalahnya, pasar lagi minim sentimen positif dari global. Investor masih nunggu “sinyal jelas” dulu, misalnya ada gencatan senjata di Timur Tengah, jalur energi utama kayak Selat Hormuz dibuka lagi normal, atau harga minyak turun ke bawah US$80 per barel.
Selama hal-hal itu belum kejadian, IHSG bakal susah buat rebound besar karena tekanan dari luar masih dominan.
Apalagi sekarang konflik global makin rumit. Kalau sebelumnya fokus ke Selat Hormuz (jalur sekitar 20% minyak dunia), sekarang perhatian juga ke Bab el-Mandeb setelah kelompok Houthi di Yaman ikut terlibat.
Dua jalur ini penting banget buat perdagangan global—terutama penghubung Asia-Eropa lewat Terusan Suez. Kalau dua-duanya terganggu barengan, sekitar 25–30% pasokan minyak dunia bisa kena dampak. Efeknya? Risiko inflasi global naik dan potensi resesi makin besar. Harga minyak juga bisa bertahan tinggi lebih lama.
Buat Indonesia, ini jadi tekanan tambahan. Idealnya harga minyak itu di bawah US$80 per barel, tapi kalau naik terus, beban fiskal ikut membengkak.
Sebagai gambaran, APBN pakai asumsi harga minyak US$70. Setiap kenaikan US$10 bisa nambah defisit sekitar Rp51,8 triliun. Kalau sampai US$100, subsidi energi bisa nambah Rp236 triliun, sementara tambahan pemasukan cuma sekitar Rp81 triliun—artinya defisit bisa melebar sampai Rp155 triliun. Ini jelas bikin sentimen pasar saham makin berat.
Dari sisi global lain, kebijakan bank sentral AS juga ikut jadi perhatian. Selain ngurus inflasi dan tenaga kerja, mereka juga secara nggak langsung menjaga stabilitas sistem keuangan global yang bergantung pada likuiditas.
Sementara itu, tensi geopolitik juga makin panas. Israel dilaporkan menyerang sejumlah target di Teheran, ibu kota Iran. Infrastruktur energi sempat kena dampak, meski listrik di sebagian wilayah sudah pulih.
Di sisi lain, beberapa insiden juga terjadi di wilayah Israel, termasuk kebakaran di area industri yang disebut akibat serangan Iran. Bahkan ada laporan kerusakan pada jet militer AS di pangkalan udara di Arab Saudi.
Situasi ini bikin pasar makin was-was. Selama ketidakpastian global masih tinggi, wajar kalau IHSG cenderung bergerak volatile dan susah buat naik signifikan dalam waktu dekat.
