Jakarta — Nilai tukar rupiah ditutup melemah 22 poin atau sekitar 0,13% ke level Rp17.002 per dolar AS di akhir perdagangan Senin (30/3/2026).
Menurut pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, pelemahan ini dipicu situasi geopolitik yang makin panas, terutama potensi eskalasi konflik Iran setelah kelompok Houthi dari Yaman melancarkan serangan di Laut Merah.
Ibrahim bilang, kelompok Houthi ini bisa saja membuka “front” baru dalam konflik, apalagi mereka punya kemampuan buat menyerang di wilayah Laut Merah.
Di sisi lain, Iran juga menyatakan siap menghadapi kemungkinan invasi darat dari AS. Hal ini muncul setelah laporan akhir pekan lalu menyebut Washington mengirim ribuan pasukan ke Timur Tengah.
Presiden AS Donald Trump bahkan sudah memperpanjang tenggat waktu untuk potensi serangan ke infrastruktur energi Iran sampai awal April. Sementara itu, Iran masih belum tertarik untuk melakukan pembicaraan langsung dengan AS.
Dari sisi data ekonomi, sentimen konsumen di AS juga lagi kurang bagus. Survei dari Universitas Michigan menunjukkan masyarakat mulai pesimis terhadap kondisi ekonomi.
Indeks sentimen konsumen di Maret turun dari 55,5 ke 53,3, lebih rendah dari perkiraan 54. Sementara itu, ekspektasi inflasi untuk 12 bulan ke depan naik dari 3,4% jadi 3,8%. Untuk jangka lima tahun, angkanya masih tetap di 3,2%.
Kondisi ini bikin pasar mulai memperkirakan langkah berikutnya dari The Fed bakal mengarah ke kenaikan suku bunga, apalagi di tengah harga energi yang tinggi.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar melihat kemungkinan besar nggak akan ada penurunan suku bunga tahun ini. Bahkan, ada peluang sekitar 50% suku bunga justru naik di akhir 2026. Ini berbeda jauh dibanding ekspektasi sebelumnya yang sempat memprediksi dua kali penurunan bunga sebelum konflik AS-Iran memanas.
Dari dalam negeri, rencana pemerintah untuk efisiensi anggaran dinilai belum cukup kalau berdiri sendiri. Perlu dikombinasikan dengan kebijakan lain supaya bisa benar-benar menjaga defisit APBN.
Soalnya, tekanan fiskal yang ada sekarang sifatnya struktural, mulai dari beban subsidi energi, naiknya bunga utang, sampai kebutuhan belanja prioritas.
Karena itu, kebijakan efisiensi saja nggak cukup—harus ada strategi tambahan biar defisit tetap terkendali.
Ke depan, Ibrahim memprediksi pergerakan rupiah masih bakal naik-turun (fluktuatif) di kisaran Rp17.000 sampai Rp17.040 per dolar AS.
