Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka melemah di perdagangan Jumat (10/4/2026).
Mengutip data Bloomberg, sampai pukul 09.48 WIB, rupiah ada di level Rp17.112 per dolar AS. Artinya, turun 22 poin atau sekitar 0,13% dibanding penutupan sebelumnya.
Sementara menurut Yahoo Finance, di waktu yang sama rupiah ada di Rp17.077 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi bilang pergerakan rupiah hari ini bakal fluktuatif, tapi cenderung masih melemah.
“Rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.090 sampai Rp17.140 per dolar AS,” jelasnya.
Dipengaruhi Situasi Global
Pergerakan rupiah kali ini banyak dipengaruhi kondisi global, terutama ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Gangguan di Selat Hormuz masih berlanjut, padahal jalur ini penting banget karena mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Meski sempat ada gencatan senjata antara AS dan Iran, situasinya masih belum benar-benar stabil.
Pergerakan kapal memang sudah mulai dibuka lagi secara terbatas, tapi pengiriman masih terganggu karena Iran masih pegang kendali cukup besar atas jalur tersebut.
Sentimen pasar juga makin tertekan setelah meningkatnya serangan Israel ke Lebanon. Kondisi ini dikhawatirkan bisa merusak gencatan senjata yang sudah rapuh. Bahkan, sempat ada laporan kalau jalur kapal tanker kembali terganggu.
Iran sendiri menyebut pembicaraan damai dengan AS jadi “tidak masuk akal” setelah serangan terbaru, karena dianggap melanggar kesepakatan.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump sempat mengumumkan gencatan senjata dua minggu dengan Iran, yang sempat bikin pasar berharap jalur Selat Hormuz bisa normal lagi.
Tapi analis mengingatkan, gangguan rantai pasok dan infrastruktur di kawasan itu nggak bisa pulih cepat—bisa butuh waktu berbulan-bulan.
Dari sisi kebijakan moneter, risalah rapat The Fed bulan Maret menunjukkan bank sentral AS masih membuka peluang penurunan suku bunga tahun ini, meski situasi global lagi penuh ketidakpastian.
Para pembuat kebijakan disebut perlu tetap fleksibel dalam melihat dampak perang terhadap inflasi dan pasar tenaga kerja yang cenderung stagnan.
Proyeksi Ekonomi RI
Di sisi lain, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2026 sebesar 4,7%, turun dari sebelumnya 4,8%.
Meski turun, angka ini masih lebih tinggi dibanding proyeksi kawasan Asia Timur dan Pasifik yang sekitar 4,2%.
Tekanan ke ekonomi global datang dari beberapa faktor, seperti konflik Timur Tengah yang bikin harga energi naik, kebijakan perdagangan AS, hingga perkembangan pesat teknologi AI.
OECD juga ikut memangkas proyeksi ekonomi Indonesia jadi 4,8% dari sebelumnya 5,0%.
Berbeda dengan lembaga internasional, pemerintah Indonesia justru masih optimistis. Pertumbuhan ekonomi 2026 diperkirakan bisa ada di kisaran 5,4%–5,7%, bahkan ditargetkan mendekati 6%.
Optimisme ini didorong oleh konsumsi dalam negeri, investasi, dan program seperti biodiesel B50.
“Fokusnya ada di kedaulatan pangan dan energi, kebijakan fiskal yang hati-hati, serta percepatan investasi,” tutup Ibrahim.
