Demi Stabilkan Rupiah, BI Terbitkan SRBI dengan Biaya Rp7 Triliun

Demi Stabilkan Rupiah, BI Terbitkan SRBI dengan Biaya Rp7 Triliun

BFDCnews.com – Jakarta — Bank Indonesia (BI) sekarang makin aktif nih lelang Sekuritas Rupiah BI (SRBI). Kalau sebelumnya (2023 sampai awal 2026) cuma seminggu sekali tiap Jumat, sejak Februari 2026 jadi dua kali seminggu: Rabu dan Jumat.

Di Februari, minatnya tinggi banget. Rata-rata hasil lelang bisa tembus di atas Rp16 triliun per sesi. Tapi masuk Maret, sempat anjlok—rata-ratanya cuma Rp4,37 triliun. Penyebabnya nggak lain karena situasi global lagi panas, terutama konflik Iran vs AS dan Israel.

Nah, di April mulai ramai lagi. Salah satu pemicunya karena imbal hasil (yield) SRBI makin menarik. Misalnya:

  • Tenor 6 bulan: 5,49% (tertinggi sejak Agustus 2025)
  • Tenor 9 bulan: 5,62%
  • Tenor 12 bulan: 5,76%

Di sisi lain, premi risiko Indonesia (CDS 5 tahun) juga naik ke 93,87 bps dari sebelumnya 66,85 bps di Januari. Artinya, pasar masih melihat risiko Indonesia agak meningkat.

Chief Economist Bank Syariah Indonesia, Banjaran Surya Indrastomo, bilang kenaikan CDS ini bukan cuma gara-gara SRBI, tapi kombinasi kondisi global dan persepsi risiko terhadap Indonesia.

Menurut dia, langkah BI nambah frekuensi lelang dan naikin yield ini memang strategi buat bikin aset rupiah tetap menarik sekaligus bantu jaga stabilitas nilai tukar.

Kalau langkah ini berhasil nahan gejolak dan mencegah dana asing keluar, CDS bisa turun pelan-pelan. Tapi kalau kondisi global masih “risk off”, ya CDS bisa tetap tinggi atau bahkan naik lagi.

Soal cadangan devisa, per Maret 2026 ada di US$148,2 miliar, turun dari Februari yang US$151,9 miliar. Meski turun, level ini masih tergolong aman karena setara sekitar 6 bulan impor—jauh di atas standar internasional (sekitar 3 bulan).

Artinya, BI masih punya “amunisi” buat jaga stabilitas pasar.

Secara keseluruhan, SRBI ini memang jadi salah satu cara BI buat menjaga rupiah dengan pendekatan yang lebih ramah pasar, jadi nggak melulu harus intervensi pakai cadangan devisa.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, juga bilang SRBI ini lebih berfungsi buat nahan kenaikan risiko, bukan langsung nurunin. Jadi ibaratnya lebih ke “rem” daripada solusi instan.

Dengan CDS di kisaran 80–90 bps, pasar masih melihat Indonesia cukup berisiko, tapi belum sampai kehilangan kepercayaan.

Dia juga menjelaskan, arah CDS ke depan tetap banyak dipengaruhi faktor besar seperti geopolitik, arus modal asing, sampai kondisi fiskal.

Soal biaya, dengan total SRBI yang beredar sekitar Rp831 triliun dan yield di kisaran 5,49%–5,76%, bunga kotor tahunannya diperkirakan sekitar Rp45–47 triliun.

Tapi kalau dihitung “biaya tambahan” dari kebijakan ini (dibanding BI Rate 4,75%), angkanya sekitar Rp6,2–Rp8,4 triliun per tahun, atau kira-kira Rp7 triliunan.

Menurut Josua, angka segitu masih masuk akal, apalagi kalau tujuannya buat mencegah dampak yang lebih besar—seperti inflasi impor, subsidi energi yang membengkak, sampai pelebaran defisit APBN.

Sebagai gambaran, subsidi dan kompensasi energi aja sudah tembus Rp51,5 triliun sampai Februari 2026, dan itu sangat sensitif sama harga minyak dan nilai tukar rupiah.

Kalau rupiah makin melemah dan harga minyak tinggi, defisit APBN 2026 bahkan bisa melebar ke Rp761 triliun dari target Rp689,1 triliun.

Jadi, tambahan biaya sekitar Rp6–8 triliun per tahun buat jaga rupiah masih dianggap “worth it” dibanding risiko yang lebih besar.

Tapi tetap ada catatan: kalau kondisi global nggak membaik, SRBI ini cuma bisa nahan tekanan, bukan menyelesaikan masalah sepenuhnya.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.