Jakarta, BFDCnews.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi April 2026 cuma naik tipis, yaitu 0,13% secara bulanan (mtm). Secara tahun kalender, inflasi sudah mencapai 1,06%.
Angka ini ternyata lebih rendah dibanding Maret lalu yang sempat naik 0,41%. Jadi, tekanan harga di April ini bisa dibilang agak lebih “adem”.
Kalau dilihat dari penyumbangnya, sektor transportasi jadi yang paling berpengaruh. Inflasinya sampai 0,99% dan nyumbang sekitar 0,12% ke total inflasi.
Menurut Deputi BPS Ateng Hartono, penyebab utamanya datang dari tarif pesawat yang nyumbang 0,11% dan bensin sekitar 0,02%.
Selain itu, beberapa bahan pokok juga ikut dorong inflasi, seperti minyak goreng, tomat, dan beras—meskipun kontribusinya nggak sebesar sektor transportasi.
Menariknya, angka inflasi ini ternyata lebih rendah dari perkiraan pasar yang sebelumnya memprediksi bisa sampai 0,43% di April.
Dari sisi lain, ekonom Juniman bilang kenaikan harga pangan seperti beras, gula, daging, sampai cabai juga ikut berpengaruh. Ditambah lagi, harga BBM nonsubsidi sempat naik di pertengahan April.
Sebagai gambaran, harga Pertamax Turbo melonjak cukup tinggi, dari Rp13.100 jadi Rp19.400 per liter. Dexlite dan Pertamina Dex juga ikut naik signifikan.
Pelemahan rupiah juga disebut ikut bikin harga barang impor naik, yang akhirnya dorong inflasi. Tapi di sisi lain, harga emas dan perhiasan sempat turun, jadi sedikit menahan kenaikan.
Intinya, meski masih naik, inflasi April ini relatif lebih terkendali dibanding bulan sebelumnya.
