Jakarta, BFDCnews.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka langsung di zona merah pada perdagangan pagi ini, Senin (4/5/2026).
Di awal sesi, IHSG turun tipis sekitar 3,38 poin atau 0,05% ke level 6.968,56. Pergerakan saham cukup campur aduk, ada 209 saham naik, 88 turun, dan 318 lainnya masih belum bergerak.
Nilai transaksi di awal perdagangan juga masih relatif kecil, sekitar Rp144 miliar dengan volume 606 juta saham dari lebih dari 38 ribu transaksi. Sementara itu, kapitalisasi pasar tercatat di kisaran Rp12.440 triliun.
Nggak lama setelah dibuka, tekanan makin terasa. IHSG sempat turun lebih dalam sampai sekitar 0,71%. Beberapa saham yang paling ramai diperdagangkan antara lain BBCA, BRPT, dan BBRI.
Sentimen global lagi kurang bersahabat. Memanasnya konflik geopolitik, ditambah kenaikan harga minyak, bikin pasar keuangan termasuk IHSG dan rupiah ikut tertekan. Ditambah lagi, pelemahan bursa saham AS (Wall Street) jadi sinyal kurang bagus buat investor.
Meski begitu, dari dalam negeri masih ada sedikit angin segar. Data ekonomi seperti pertumbuhan yang diperkirakan tetap kuat dan inflasi yang mulai melandai diharapkan bisa menahan gejolak pasar. Hari ini juga ada beberapa agenda penting, termasuk konferensi pers dari pemerintah dan OJK.
Di sisi global, situasi makin panas. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak setelah serangan drone dan rudal di Uni Emirat Arab. Bahkan, Presiden AS saat itu, Donald Trump, sempat mengeluarkan pernyataan keras terkait situasi tersebut.
Kondisi ini bikin investor makin waspada. Bursa saham global cenderung melemah, sementara harga minyak justru naik karena kekhawatiran dampak perang ke ekonomi dunia.
Dari dalam negeri, ada kabar positif soal neraca perdagangan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia masih mencetak surplus US$3,32 miliar di Maret 2026. Surplus ini bahkan sudah berlangsung selama 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Namun, sektor manufaktur justru mulai menunjukkan pelemahan. Data PMI Indonesia turun ke level 49,1 pada April 2026, yang berarti masuk fase kontraksi dan jadi yang terendah dalam sembilan bulan terakhir.
Ke depan, pelaku pasar juga menunggu rilis data penting seperti pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026. Diperkirakan masih cukup kuat, didorong momentum Ramadan dan Lebaran yang biasanya meningkatkan konsumsi masyarakat.
Selain itu, pemerintah melalui Menteri Keuangan dan Menko Perekonomian dijadwalkan memberikan update soal kondisi ekonomi terbaru. OJK juga akan merilis perkembangan sektor keuangan, mulai dari kredit perbankan sampai industri asuransi.
Dengan banyaknya sentimen baik dari dalam maupun luar negeri, pergerakan pasar hari ini diperkirakan masih bakal cukup fluktuatif.
