Jakarta – Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengakui kalau sektor manufaktur Indonesia lagi kena banyak tekanan, terutama gara-gara konflik di Timur Tengah. Kondisi ini bahkan berpotensi memicu gelombang PHK.
Menurut Agus, situasi ini memang perlu jadi perhatian serius. Tapi, ia menegaskan bahwa bukan cuma Indonesia yang kena dampaknya—negara lain juga menghadapi hal serupa.
Saat ini, tekanan datang dari berbagai sisi. Mulai dari rantai pasok yang terganggu, harga bahan baku yang naik, sampai permintaan pasar yang melemah.
Meski begitu, Agus tetap optimistis kondisi ini cuma sementara karena sebagian besar dipicu faktor global.
“Saya yakin ini nggak permanen,” ujarnya.
Ia juga percaya sektor manufaktur Indonesia cukup kuat menghadapi kondisi seperti ini. Menurutnya, industri dalam negeri sudah berkali-kali melewati krisis besar, termasuk saat pandemi COVID-19, dan tetap bisa bertahan.
Di sisi lain, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sebelumnya sudah mengingatkan potensi PHK massal dalam waktu dekat, bahkan dalam tiga bulan ke depan.
Presiden KSPI, Said Iqbal, menyebut ancaman ini paling terasa di sektor tekstil dan turunannya, seperti benang, kain, hingga polyester.
Selain itu, industri plastik juga berpotensi terdampak karena harga bahan baku impor naik, apalagi dengan rupiah yang melemah terhadap dolar AS.
Dampaknya bisa melebar ke sektor lain, seperti elektronik dan otomotif yang banyak pakai bahan plastik. Industri semen juga ikut tertekan karena kelebihan pasokan, sementara permintaan lagi melemah.
Jadi, meski pemerintah masih optimistis, sinyal tekanan di sektor industri memang sudah mulai terasa dan perlu diwaspadai.
