Jakarta, BFDCnews.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan pekan ini dengan sentimen positif. Pada pembukaan perdagangan Senin (29/6/2026), IHSG sempat menguat 0,61% atau naik 35,89 poin ke level 5.932,03, mencoba bangkit setelah tertekan cukup dalam sepanjang pekan lalu.
Pada awal perdagangan, nilai transaksi tercatat sekitar Rp110,45 miliar dengan volume mencapai 142,23 juta saham yang diperdagangkan dalam 23.927 transaksi. Sebanyak 201 saham menguat, 103 saham melemah, dan 309 saham bergerak stagnan.
Namun, euforia tersebut tak bertahan lama. Beberapa menit setelah pembukaan, IHSG berbalik arah ke zona merah dan sempat terkoreksi sekitar 0,24%, menunjukkan pelaku pasar masih cenderung berhati-hati.
Saham-saham dengan nilai transaksi terbesar pada awal perdagangan hari ini antara lain BBCA, BBRI, BMRI, DSSA, dan MAPI.
Pekan Penuh Sentimen
Pergerakan pasar sepanjang pekan ini diperkirakan bakal dipengaruhi oleh sederet data ekonomi penting, baik dari dalam negeri maupun global.
Investor akan mencermati rilis data inflasi Indonesia, neraca perdagangan, hingga laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS). Berbagai data tersebut diyakini akan memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).
Selain itu, perkembangan geopolitik juga masih menjadi perhatian utama investor.
Pelaku pasar turut menunggu data aktivitas manufaktur China, inflasi kawasan Eropa, hingga pidato pejabat The Fed. Seluruh agenda tersebut diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan IHSG, rupiah, pasar obligasi, hingga harga komoditas sepanjang pekan ini.
Bursa Asia Bergerak Beragam
Di kawasan Asia, mayoritas bursa bergerak fluktuatif pada perdagangan Senin setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat.
Indeks Nikkei 225 Jepang dibuka melemah 0,35%, sementara Topix masih mampu menguat 0,43%.
Di Korea Selatan, Kospi mengalami tekanan cukup besar dengan penurunan 2,29%, sedangkan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq justru naik 0,97%.
Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia menguat 0,41%, mencerminkan respons pasar yang masih beragam terhadap meningkatnya risiko geopolitik.
Konflik Timur Tengah Kembali Jadi Sorotan
Sentimen pasar global kembali dibayangi meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Situasi memanas setelah AS melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer Iran sebagai respons atas aksi Teheran di sekitar Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak paling strategis di dunia.
Presiden AS Donald Trump juga mengeluarkan pernyataan keras melalui media sosial Truth Social. Ia mengklaim militer AS telah menghancurkan fasilitas penyimpanan rudal, drone, serta radar pesisir Iran karena dianggap melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Di sisi lain, upaya diplomatik untuk meredakan konflik masih menemui jalan buntu. Meski pembicaraan sementara dihentikan, seluruh pihak dikabarkan tetap mempertahankan perwakilan mereka di Swiss sebagai langkah antisipasi apabila negosiasi kembali dilanjutkan.
Harga Minyak dan Wall Street Ikut Bereaksi
Meningkatnya tensi geopolitik turut mendorong kenaikan harga minyak dunia. Minyak Brent naik 0,8% menjadi US$72,57 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,1% ke level US$70 per barel.
Di Amerika Serikat, kontrak berjangka (futures) indeks saham bergerak positif. Futures Dow Jones naik sekitar 124 poin atau 0,2%, sementara futures S&P 500 dan Nasdaq-100 masing-masing menguat 0,4% dan 0,5%.
Meski begitu, Wall Street baru saja menutup pekan lalu dengan performa yang beragam. S&P 500 terkoreksi hampir 2%, Nasdaq Composite anjlok 4,6%, sedangkan Dow Jones masih mampu mencatat kenaikan sekitar 0,6%.
Tekanan terbesar datang dari saham-saham teknologi. Nvidia dan Alphabet masing-masing kehilangan lebih dari 8%, sementara Meta Platforms, Apple, dan Amazon turun lebih dari 4%.
Presiden Yardeni Research, Ed Yardeni, menilai pasar mulai mengalami fenomena AI fatigue, di mana investor mulai mempertanyakan apakah belanja besar-besaran perusahaan teknologi untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI) benar-benar akan menghasilkan keuntungan yang sepadan.
Menutup perdagangan Juni, kinerja indeks utama Wall Street juga masih beragam. Hingga akhir pekan lalu, S&P 500 tercatat turun sekitar 3% sepanjang bulan, Nasdaq melemah lebih dari 6%, sedangkan Dow Jones masih mampu mencatat kenaikan lebih dari 1%.
