Jakarta, BFDCnews.com — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bikin investor deg-degan. Sempat dibuka menguat di level 6.383,81 pada perdagangan Senin (10/8/2026), IHSG justru berbalik arah dan terjun cukup dalam.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sekitar pukul 09.14 WIB, IHSG sudah merosot ke level 6.292,28, atau melemah 1,15% dibandingkan posisi penutupan sebelumnya.
Tekanan di pasar juga terlihat dari aktivitas perdagangan. Nilai transaksi tercatat mencapai sekitar Rp3,85 triliun, dengan volume perdagangan mencapai 9,94 miliar saham dalam 502.209 transaksi.
Sebanyak 133 saham menguat, sementara 451 saham melemah dan 139 saham lainnya masih stagnan.
Saham Konglomerasi Jadi Pemberat IHSG
Penurunan IHSG kali ini tak lepas dari tekanan yang terjadi pada sejumlah saham konglomerasi. Beberapa saham berkapitalisasi besar mengalami pelemahan dan ikut menyeret indeks ke zona merah.
Mengacu pada data Refinitiv, BBCA menjadi salah satu saham yang paling berat menekan pergerakan IHSG. Selain BBCA, sejumlah saham lain yang turut menjadi pemberat antara lain DSSA, VKTR, BREN, IMPC, dan BRPT.
Tekanan juga terjadi di seluruh sektor perdagangan, menunjukkan bahwa sentimen negatif cukup merata di pasar saham pada awal perdagangan.
Sentimen Global Masih Jadi Bayang-Bayang
Pergerakan IHSG juga masih dibayangi oleh sejumlah sentimen global, khususnya perkembangan hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Presiden AS Donald Trump pada Senin (10/8/2026) merespons tuntutan Iran terkait kesepakatan damai dengan mengajukan tuntutan baru. Trump meminta Iran membayar kompensasi atas korban jiwa dan kerusakan yang terjadi akibat perang, serangan, hingga aksi demonstrasi.
Trump bahkan menyebut Iran harus membayar kerusakan yang terjadi selama 50 tahun terakhir, termasuk kompensasi bagi warga sipil dan pasukan AS yang tewas di kawasan tersebut.
Tuntutan tersebut berpotensi membuat upaya pembukaan kembali Selat Hormuz semakin sulit.
Sebelumnya, Iran meminta kompensasi, pencabutan sanksi, serta penghentian ancaman militer AS sebagai bagian dari syarat pembukaan kembali jalur perdagangan strategis tersebut.
Harga Minyak Ikut Melonjak
Ketidakpastian hubungan AS dan Iran turut memicu gejolak di pasar energi. Harga minyak dunia melonjak sekitar 5% pada Senin (10/8/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa kesepakatan pembukaan kembali lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih sulit tercapai.
Harga minyak WTI ditutup di level US$82,13 per barel, sedangkan minyak Brent berada di posisi US$87,72 per barel.
Kenaikan harga minyak ini menjadi perhatian investor karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan memengaruhi prospek ekonomi global.
Asing Mulai Masuk, Tapi Belum Cukup Kuat
Dari dalam negeri, ada sedikit kabar positif. Setelah cukup lama melakukan aksi jual, investor asing mulai kembali masuk ke pasar saham Indonesia, meskipun nilainya masih terbatas.
Pada perdagangan Senin, investor asing tercatat membukukan net foreign inflow Rp829,69 miliar di seluruh pasar (all market). Namun, jika melihat pasar reguler saja, asing masih mencatatkan net foreign sell Rp875,51 miliar.
Jika ditarik sejak awal tahun, tepatnya dari 2 Januari 2026, investor asing masih lebih banyak melakukan aksi jual. Dari 141 hari perdagangan, asing tercatat melakukan net sell dalam 93 hari, sementara net buy hanya terjadi dalam 48 hari.
Artinya, satu atau dua sesi pembelian besar belum cukup untuk membalikkan tren aksi jual asing yang sudah berlangsung sepanjang tahun.
Secara year-to-date (YTD), pasar saham Indonesia masih mencatatkan net foreign outflow Rp70,46 triliun di all market dan mencapai Rp95,37 triliun di pasar reguler.
Sebelumnya, asing juga sempat mencatatkan pembelian cukup besar pada Jumat pekan lalu. Saat itu, net buy asing mencapai Rp1,24 triliun di seluruh pasar, sementara di pasar reguler tercatat net inflow sebesar Rp917,23 miliar.
Masuknya kembali investor asing tentu menjadi angin segar bagi pasar setelah aksi jual besar-besaran yang terjadi sepanjang Mei hingga Juli 2026.
Namun, investor tetap perlu waspada. Arus dana asing yang mulai masuk masih relatif terbatas, sementara tekanan dari sentimen global dan saham-saham berkapitalisasi besar masih menjadi faktor yang bisa membuat IHSG bergerak volatil.
