Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melaju kencang pada awal perdagangan sesi kedua hari ini, Senin (9/2/2026). Indeks melonjak 93 poin atau naik 1,17% ke level 8.028,39.
Pergerakan pasar cukup ramai. Sebanyak 427 saham menguat, 257 melemah, dan 135 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp10,40 triliun, dengan volume 25,24 miliar saham yang diperdagangkan dalam 1,51 juta transaksi. Kapitalisasi pasar pun ikut naik menjadi Rp14.535 triliun.
Mayoritas sektor kompak menguat hari ini. Sektor barang baku, konsumer non-primer, dan energi mencatat kenaikan paling besar. Sementara itu, hanya sektor kesehatan dan keuangan yang masih tertekan.
Penguatan IHSG hari ini banyak ditopang oleh saham-saham konglomerat. Kontributor terbesar datang dari emiten batu bara Grup Sinar Mas (DSSA), disusul tambang emas Grup Bakrie (BRMS) dan Grup Saratoga (EMAS).
Selain itu, saham-saham seperti FILM, AMRT, BRPT, IMPC, dan MDKA juga ikut memberi dorongan positif ke indeks.
Beberapa saham bahkan melonjak tajam. RATU naik 14%, EMAS menguat 11%, DEWA naik 9%, PANI naik 8%, dan DSSA juga menguat 8%.
Di sisi lain, saham blue chip perbankan justru menjadi pemberat utama. Bank Central Asia (BBCA) tercatat menyumbang tekanan paling besar terhadap pergerakan IHSG hari ini.
Ke depan, pelaku pasar bakal menghadapi pekan yang cukup padat dengan agenda rilis data ekonomi penting dari berbagai negara. Investor akan mencermati data dari Indonesia, Amerika Serikat, dan China, yang dinilai krusial untuk membaca arah daya beli, inflasi, hingga kondisi pasar tenaga kerja.
Data-data ini diperkirakan akan memengaruhi pergerakan pasar saham dan nilai tukar, sekaligus menjadi acuan konsensus pasar untuk pekan depan, terutama setelah volatilitas pasar domestik yang cukup tinggi belakangan ini.
Sebelumnya, pasar keuangan Indonesia sempat tertekan setelah Moody’s Investors Service menurunkan outlook kredit Indonesia. Menanggapi hal tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut penurunan outlook terjadi karena kurangnya penjelasan pemerintah terkait lembaga pengelola investasi baru, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
Menurut Airlangga, APBN tahun ini memang punya pola berbeda karena banyak dialokasikan untuk program unggulan Presiden Prabowo, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, serta berbagai layanan publik. Sementara motor pertumbuhan ekonomi ke depan lebih diarahkan lewat investasi Danantara, bukan lagi lewat APBN langsung.
Di kawasan Asia, sentimen positif juga datang dari Jepang. Pasar saham Negeri Sakura melonjak ke level tertinggi sepanjang sejarah, dipimpin oleh Indeks Nikkei 225 yang melesat lebih dari 5,6% dan tembus level 57.000 untuk pertama kalinya. Indeks Topix juga naik lebih dari 3% dan mencetak rekor baru.
Lonjakan ini dipicu kemenangan telak Perdana Menteri Sanae Takaichi dalam pemilu. Partai Demokrat Liberal (LDP) meraih supermajority atau lebih dari dua pertiga kursi parlemen, menurut laporan NHK.
Penguatan pasar juga diikuti pergerakan aset lain. Yen Jepang menguat ke level 156,88 per dolar AS, sementara imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik ke 2,274%.
Pasar Asia lainnya ikut menghijau. Kospi Korea Selatan melonjak 4,15%, Kosdaq naik 2,97%, dan indeks S&P/ASX 200 Australia menguat 1,65%. Kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong juga menunjukkan potensi penguatan.
