Harga Bitcoin lagi melemah di awal perdagangan Asia, Senin (23/2). Sentimen pasar memburuk setelah muncul ketidakpastian baru soal kebijakan tarif Amerika Serikat (AS), terutama setelah Mahkamah Agung membatalkan penggunaan kewenangan darurat untuk memberlakukan tarif.
Mengutip Bloomberg, Bitcoin sempat turun hingga 4,8% ke sekitar USD 64.300 atau setara Rp 1,08 miliar (kurs Rp 16.801). Itu jadi level terendah sejak 6 Februari 2026.
Bukan cuma Bitcoin, kripto lain juga ikut tertekan. Ether—kripto terbesar kedua setelah Bitcoin—bahkan turun sekitar 5,2%.
Tekanan ini muncul setelah pejabat AS menyatakan bahwa kesepakatan dagang yang sudah dinegosiasikan tetap berjalan, meskipun Mahkamah Agung membatalkan kewenangan darurat Presiden Donald Trump untuk menerapkan tarif.
Namun, situasi makin bikin pasar waswas setelah Trump lewat media sosial mengatakan tarif global 10% yang baru diumumkan sehari sebelumnya akan dinaikkan lagi jadi 15%. Pernyataan ini langsung bikin pasar goyang—terlihat dari dolar AS dan kontrak berjangka saham AS yang ikut melemah di sesi awal Asia.
Co-founder Orbit Markets, Caroline Mauron, menilai pasar kripto saat ini masih cukup rapuh. Banyak pelaku pasar berharap ada “benteng” kuat di level USD 60.000.
Menurutnya, ketidakpastian makro—mulai dari tensi geopolitik Iran hingga kebijakan tarif AS yang berubah-ubah—membuat sentimen makin berat dan bisa saja mendorong Bitcoin kembali menguji level tersebut.
“Kalau tekanan berlanjut, Bitcoin bisa turun lagi ke USD 60.000. Tapi kalau mau balik positif, harus bisa tembus lagi ke atas USD 70.000,” ujarnya.
Singkatnya, pasar kripto lagi sensitif. Sedikit saja sentimen negatif muncul, harganya bisa langsung goyah.
