Jakarta — IHSG masih lanjut ngegas pagi ini, Selasa (24/2/2026). Setelah reli cukup kencang kemarin, indeks dibuka naik 31,97 poin atau 0,38% ke level 8.428,05.
Di awal perdagangan, 252 saham menguat, 71 melemah, dan 635 stagnan. Nilai transaksi jelang pembukaan sudah tembus Rp 292,8 miliar, dengan 314,7 juta saham berpindah tangan dalam 38.450 transaksi. Kapitalisasi pasar juga masih nyaman di kisaran Rp 15.000-an triliun.
Masuk hari kedua perdagangan pekan ini, sentimen pasar domestik masih cukup positif. Pelaku pasar tampaknya sudah mulai “kebal” dan lebih siap menghadapi isu tarif resiprokal yang kembali mencuat, sehingga reaksi pasar kali ini relatif lebih tenang.
Seperti diketahui, Presiden AS Donald Trump kembali mengancam akan menaikkan tarif bagi negara-negara yang dianggap bermain-main dengan kesepakatan dagang terbaru. Ancaman ini muncul setelah Mahkamah Agung AS memblokir sebagian besar tarif global yang sebelumnya diberlakukan.
Sejumlah negara pun mulai bersikap hati-hati. Uni Eropa menunda ratifikasi kesepakatan dagang yang dicapai musim panas lalu, sementara India juga memilih menunda pembicaraan finalisasi kesepakatan baru.
Trump lewat media sosial bahkan memperingatkan negara-negara agar tidak menjadikan putusan pengadilan sebagai alasan untuk mundur dari komitmen dagang. Ia menegaskan tarif bisa saja dibuat lebih tinggi lagi.
Dari sisi teknikal, IHSG kini sedang mencoba menembus level psikologis 8.400 yang juga menjadi area resistance. Kalau berhasil dilewati, ruang kenaikan berikutnya terbuka ke kisaran 8.600–8.700.
Level itu merupakan area gap yang tertinggal saat IHSG sempat tertekan di akhir Januari, ketika MSCI mengumumkan pembekuan indeks saham Indonesia dan membuka peluang penurunan status dari emerging market ke frontier market.
Secara historis, gap seperti ini memang sering kali “ditutup”, meski waktunya tidak selalu cepat. Dengan momentum yang ada sekarang, peluang ke arah sana masih terbuka.
Kabar baiknya, dana asing mulai deras masuk lagi. Dalam empat hari terakhir, tercatat net inflow sekitar Rp 3,2 triliun. Ini jadi sinyal bahwa kepercayaan investor asing terhadap pasar saham Indonesia mulai kembali pulih.
