New York: Dolar AS lagi-lagi melemah pada Senin, 23 Februari 2026. Investor sedang mencerna dampak putusan Mahkamah Agung yang membatalkan tarif Presiden AS Donald Trump, plus respons keras dari pemerintahannya. Di saat yang sama, pasar juga memantau lanjutan pembicaraan nuklir antara AS dan Iran.
Mengutip Investing.com, Selasa, 24 Februari 2026, indeks dolar — yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia — turun 0,2 persen ke level 97,65. Padahal minggu lalu dolar sempat mencatat kenaikan hampir 1 persen, performa terbaiknya dalam lebih dari empat bulan.
Ketidakpastian Tarif Bikin Dolar Tertekan
Mahkamah Agung pada Jumat lalu memutuskan bahwa tarif besar-besaran yang diberlakukan Trump melampaui kewenangannya. Namun Trump tak tinggal diam. Ia mengkritik putusan tersebut dan langsung menggantinya dengan bea masuk menyeluruh 15 persen untuk impor.
Tarif baru itu berlaku 150 hari. Masalahnya, belum jelas apakah pemerintah AS harus mengembalikan bea masuk yang sudah dibayar importir sebelumnya, karena Mahkamah Agung belum memberikan keputusan final soal itu.
Situasi ini berpotensi memicu proses hukum panjang dan makin menambah ketidakpastian. Pasalnya, Trump disebut-sebut masih mencari cara lain untuk mempertahankan kebijakan tarifnya secara lebih permanen.
Strategis valuta asing & suku bunga global dari Macquarie Group, Thierry Wizman, menilai pelemahan dolar di 2026 memang sudah diperkirakan.
Menurutnya, perang tarif mencerminkan langkah AS yang makin menjauh dari sistem perdagangan bebas berbasis aturan. Ketidakpastian yang berpusat di AS seperti ini, kata dia, jelas bukan kabar baik buat dolar.
Ia menambahkan, meski putusan Mahkamah Agung terlihat memperkuat institusi, ketidakpastian justru bertambah karena Trump kemungkinan melanjutkan perang tarif dengan pendekatan yang lebih “legal”. Jadi, pandangan bahwa dolar bakal tetap lemah di 2026 belum berubah.
Selain isu tarif, pasar juga mencermati peningkatan kekuatan militer AS di Timur Tengah. AS terus menekan Iran agar menghentikan pengembangan senjata nuklir, dan kedua negara diperkirakan kembali menggelar pembicaraan akhir pekan ini.
Euro dan Yen Sama-Sama Menguat
Di Eropa, pasangan EUR/USD naik 0,2 persen ke 1,1799. Euro diuntungkan dari pelemahan dolar sekaligus meningkatnya optimisme terhadap ekonomi kawasan tersebut.
Sementara itu, GBP/USD menguat 0,1 persen ke 1,3497. Poundsterling mendapat dorongan menjelang sejumlah agenda penting pekan ini, termasuk kesaksian Gubernur Bank of England Andrew Bailey di hadapan Komite Keuangan, serta pemilihan sela di Inggris.
Di Asia, USD/JPY turun 0,4 persen ke 154,48. Yen Jepang kembali diburu karena statusnya sebagai aset safe haven, apalagi di tengah kekhawatiran dampak kenaikan tarif AS terhadap ekonomi global. Meski begitu, libur nasional di Jepang membuat pergerakan pasar lebih terbatas.
USD/CNY relatif stabil di 6,9087 karena pasar Tiongkok masih tutup untuk perayaan Tahun Baru. Sementara itu, AUD/USD dan NZD/USD sama-sama turun 0,3 persen.
Wizman menambahkan, meski dolar kemungkinan tetap lemah karena ketidakpastian dari AS masih tinggi, beberapa mata uang seperti yuan dan euro bisa relatif diuntungkan. Sebaliknya, mata uang lain berpotensi tertekan.
Ia juga mengingatkan, imbal hasil obligasi pemerintah AS jangka panjang bisa naik akibat ketidakpastian penerimaan negara. Jika itu terjadi, pasar saham juga bisa ikut tertekan.
