Jakarta, BFDCnews.com — Ekonomi Indonesia diprediksi masih cukup solid di 2026, meskipun kondisi global lagi penuh ketidakpastian.
Menurut laporan terbaru dari ADB (Asian Development Bank), ekonomi RI diperkirakan tumbuh 5,2% di 2026, sedikit naik dari realisasi 5,1% di 2025. Bahkan, angka ini diproyeksikan tetap stabil sampai 2027.
Masih Termasuk Stabil di Asia Tenggara
Di tengah tekanan global, Indonesia dinilai jadi salah satu negara dengan performa ekonomi yang cukup stabil di kawasan.
Soalnya, beberapa negara lain justru mulai melambat karena dampak faktor eksternal.
Ditopang Konsumsi Dalam Negeri
ADB melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia masih kuat karena ditopang oleh permintaan domestik, terutama konsumsi rumah tangga.
- Belanja masyarakat masih jadi motor utama
- Pengeluaran pemerintah juga ikut bantu dorong
- Ekspor juga mulai membaik, terutama dari sektor elektronik
Jadi, meskipun kondisi global lagi nggak pasti, “mesin dalam negeri” masih jalan.
Investasi Tetap Jalan, Meski Sempat Melambat
Dari sisi investasi, memang sempat ada perlambatan, salah satunya karena penyesuaian stok (inventory).
Tapi secara keseluruhan masih ditopang oleh:
- pembangunan infrastruktur
- sektor konstruksi swasta
- dan tren baru seperti investasi digital & AI
Risiko Global Masih Membayangi
Nah, tantangan terbesar datang dari kondisi global, terutama konflik di Timur Tengah.
Dampaknya:
- harga energi naik
- rantai pasok terganggu
- jalur penting seperti Selat Hormuz ikut terdampak
ADB juga mengingatkan kalau Asia, termasuk Indonesia, cukup rentan karena masih bergantung pada impor energi.
Dampak ke Inflasi & Pasar
Tekanan dari harga energi dan pangan bisa bikin inflasi naik.
- Inflasi regional diprediksi 3,6% di 2026
- Bahkan bisa tembus 5,6% kalau konflik makin lama
Selain itu, kondisi pasar keuangan juga lagi ketat:
- saham cenderung turun
- imbal hasil obligasi naik
- mata uang Asia melemah terhadap dolar
Ini bisa bikin biaya pinjaman naik dan investasi jadi lebih berat.
Perdagangan Global Juga Lagi Nggak Pasti
ADB juga menyoroti kebijakan tarif dari Amerika Serikat yang bisa mengganggu perdagangan global.
Dalam jangka pendek mungkin ada efek dorongan ekspor, tapi dalam jangka panjang justru bisa bikin investasi tertahan karena ketidakpastian.
Skenario Terburuk Bisa Terjadi
Kalau konflik cepat mereda, dampaknya ke ekonomi masih relatif aman.
Tapi kalau berlarut-larut sampai pertengahan 2026:
- pertumbuhan ekonomi kawasan bisa turun
- harga minyak bisa melonjak sampai US$155 per barel
- daya beli masyarakat bisa tertekan
Indonesia Masih Relatif Kuat
Di tengah semua risiko itu, Indonesia masih diprediksi lebih kuat dibanding rata-rata Asia Tenggara.
- Indonesia: tumbuh 5,2%
- Kawasan: sekitar 4,7%
Artinya, ekonomi Indonesia masih punya daya tahan, terutama karena ditopang konsumsi dalam negeri dan belanja pemerintah.
