Jakarta, BFDCNews.com – Pasar keuangan Indonesia ditutup kompak di zona hijau pada perdagangan Rabu (15/7/2026). IHSG, rupiah, dan obligasi sama-sama menguat di tengah sentimen positif dari global, meski bayang-bayang konflik geopolitik masih membatasi penguatan.
IHSG ditutup naik tipis 0,04% ke level 6.041,97. Pergerakan indeks masih cukup volatil, sempat menyentuh level tertinggi 6.081 dan terendah 6.007 sebelum akhirnya ditutup menguat.
Sayangnya, aktivitas perdagangan masih belum ramai. Nilai transaksi tercatat Rp11,69 triliun, sementara investor asing kembali mencatatkan net foreign sell sebesar Rp153 miliar. Sepanjang 2026, dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia telah mencapai sekitar Rp77,57 triliun.
Penguatan IHSG ditopang saham-saham perbankan besar seperti BBRI dan BMRI, serta AMMN, BREN, dan ANTM. Sebaliknya, TLKM, BRMS, dan CASA menjadi saham yang paling membebani indeks.
Di pasar valuta asing, rupiah juga berhasil menguat 0,11% ke level Rp18.060 per dolar AS. Penguatan ini terjadi seiring melemahnya dolar AS setelah data inflasi Amerika Serikat dirilis lebih rendah dari ekspektasi pasar.
Inflasi tahunan AS turun menjadi 3,5% pada Juni 2026, lebih rendah dari proyeksi analis sebesar 3,8%. Bahkan secara bulanan, Negeri Paman Sam mencatat deflasi 0,4%, yang menjadi penurunan terbesar sejak awal pandemi Covid-19.
Data tersebut memperkuat keyakinan pasar bahwa The Fed tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga. Peluang kenaikan suku bunga pada Juli pun turun drastis menjadi 16%, dari sebelumnya 42%.
Sentimen positif juga terlihat di pasar obligasi. Yield SBN tenor 10 tahun turun dari 7,259% menjadi 7,236%, menandakan minat investor terhadap obligasi pemerintah kembali meningkat.
Fokus Pasar Hari Ini
Meski sentimen global mulai membaik, pelaku pasar diperkirakan masih akan bergerak hati-hati. Perkembangan konflik geopolitik yang belum mereda masih menjadi faktor utama yang berpotensi memicu volatilitas di pasar saham, rupiah, maupun obligasi.
