Jakarta – Harga emas dan perak lagi panas-panasnya. Keduanya kompak terbang dan menembus level psikologis baru.
Pada perdagangan Senin (23/2/2026), harga emas dunia melonjak 2,5% ke US$5.231,2 per troy ons. Ini jadi level tertinggi dalam tiga minggu terakhir. Kenaikan tersebut juga memperpanjang reli emas jadi empat hari beruntun, dengan total penguatan sekitar 7,4%. Emas pun sukses menembus level “sakral” US$5.200 per troy ons.
Namun pagi ini, Selasa (24/2/2026) hingga pukul 06.30 WIB, harga emas spot sedikit terkoreksi 0,13% ke US$5.237,89 per troy ons. Meski turun tipis, posisinya masih sangat tinggi.
Lonjakan emas ini dipicu meningkatnya permintaan aset safe haven. Penyebabnya? Lagi-lagi soal ketidakpastian kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump. Ia berjanji menaikkan bea masuk setelah Mahkamah Agung sebelumnya menolak kebijakan tarifnya.
Managing Partner CPM Group, Jeffrey Christian, mengatakan kondisi global yang penuh isu ekonomi dan politik membuat emas kembali dilirik. Apalagi setelah pasar di China sempat lebih sepi karena libur Tahun Baru Imlek.
Trump pada Senin kembali mengkritik putusan Mahkamah Agung tersebut. Sebelumnya, ia mengumumkan tarif impor sementara dinaikkan dari 10% menjadi 15%—batas maksimal yang diizinkan hukum.
Di sisi lain, data terbaru menunjukkan inflasi inti AS naik lebih tinggi dari perkiraan pada Desember, sementara pertumbuhan ekonomi kuartal IV justru melambat tajam. Kombinasi ini bisa membuat The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Pasar kini menunggu sinyal dari para pejabat The Fed pekan ini, termasuk perkembangan isu geopolitik seperti hubungan AS dan Iran.
Secara historis, emas memang cenderung kinclong saat kondisi ekonomi dan geopolitik penuh ketidakpastian. Apalagi kalau suku bunga rendah, daya tarik emas biasanya makin kuat.
Bukan cuma emas, harga perak juga ikut “ngamuk”.
Pada penutupan Senin (23/2/2026), harga perak spot melonjak 4,3% ke US$88,22 per troy ons. Dalam empat hari terakhir, perak sudah terbang sekitar 20% dan kini bertengger di level psikologis US$88.
Meski pagi ini (24/2/2026) perak terkoreksi tipis 0,44% ke US$88,61 per troy ons, posisinya masih tergolong sangat tinggi.
Singkatnya, logam mulia lagi jadi primadona di tengah ketidakpastian global. Pertanyaannya sekarang: reli ini cuma euforia sesaat, atau memang awal dari rekor baru lagi?
