Danantara Buka Suara soal Kenaikan Free Float, Singgung Transparansi

Danantara Buka Suara soal Kenaikan Free Float, Singgung Transparansi

JAKARTA — Sovereign Wealth Fund Daya Anagata Nusantara (SWF Danantara) menekankan bahwa transparansi dan akuntabilitas jadi kunci penting untuk memperkuat pasar modal Indonesia. Apalagi, belakangan pasar sedang disorot lembaga internasional seperti MSCI dan Moody’s.

Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, mengatakan isu free float (porsi saham beredar di publik) memang penting, tapi itu bukan satu-satunya hal yang jadi perhatian global.

“MSCI warning itu bukan soal free float. Kalau kita mau jujur, the elephant in the room itu adalah transparansi dan accountability,” ujar Pandu dalam wawancara acara Closing Bell Media pekan lalu.

Menurutnya, pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan pasar modal ke depan. Karena itu, komunikasi yang konsisten antarotoritas dinilai sangat penting agar arus modal asing bisa kembali deras dan pasar makin dalam.

Menanggapi peringatan dari Moody’s Ratings, Pandu memastikan Danantara meresponsnya dengan serius. Ia menilai poin utama Moody’s adalah soal kepastian arah dan komunikasi yang solid.

“Mereka perlu kepastian. Itu tugas kami. Semua yang berkomunikasi ke luar harus satu suara,” katanya di Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Ia menambahkan, tindak lanjut tidak hanya dilakukan secara internal, tetapi juga lewat koordinasi intensif dengan Kementerian Keuangan dan lembaga terkait. Bahkan, menurutnya, peringatan Moody’s bisa jadi momentum untuk memperkuat narasi ekonomi nasional secara lebih terintegrasi.

Revisi prospek sejumlah BUMN oleh Moody’s pun dianggap sebagai ujian awal tata kelola Danantara. Setidaknya ada tujuh korporasi terdampak, lima di antaranya BUMN seperti Telkom (TLKM), Telkomsel, Pertamina, Pertamina Hulu Energi, dan MIND ID. Dua emiten swasta, Indofood CBP (ICBP) dan United Tractors (UNTR), juga masuk dalam daftar.

Strategi Investasi: Tidak Hanya BUMN

Soal investasi saham, Pandu menegaskan Danantara tidak hanya fokus pada emiten pelat merah. Saham swasta dengan fundamental kuat dan valuasi menarik juga masuk radar.

“Kami tidak pilih-pilih. Kami lihat fundamentalnya. Saham private juga banyak yang bagus,” ujarnya.

Danantara disebut rutin berinvestasi di pasar modal, meski Pandu enggan mengungkapkan besaran dananya. Alasannya, keterbukaan nominal bisa memicu distorsi pasar.

“Sudah ada dananya, tapi tidak bakal disebut. Kami investasi setiap hari,” katanya.

Sebagai bagian dari strategi alokasi aset, Danantara menempatkan dana di obligasi dan saham publik. Namun, mereka tidak menetapkan target pembelian harian secara terbuka untuk menghindari spekulasi.

Selain itu, Danantara juga mendukung rencana demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI), yang dinilai sebagai praktik umum di banyak bursa regional demi memperkuat daya saing.

Saham Himbara dan Fundamental

Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menilai pergerakan saham bank-bank Himbara akan tetap mengikuti fundamental masing-masing, meski pasar sedang volatil.

“Saham itu akan mengikuti fundamental. Dan fundamental BUMN, termasuk perbankan, saat ini sangat baik,” ujarnya.

Ia menyoroti kinerja Bank Mandiri (BMRI) dan BNI (BBNI) yang dinilai solid dari sisi aset dan liabilitas. Namun, Dony menegaskan dirinya tidak dalam posisi memengaruhi keputusan investasi publik.

Secara kinerja, Bank Mandiri mencetak laba Rp56,3 triliun pada 2025, naik tipis 0,93% dari tahun sebelumnya. BNI membukukan laba Rp20,11 triliun, turun 7,15% secara tahunan. BTN (BBTN) meraih laba Rp3,5 triliun dengan aset Rp527,79 triliun, tumbuh 12,4% yoy. Sementara BRI (BBRI) belum merilis laporan kinerja setahun penuh.

Rampingkan BUMN, IPO Ditunda

Di luar investasi pasar modal, Danantara tengah menyiapkan perampingan besar-besaran portofolio BUMN lewat merger dan konsolidasi lintas sektor. Targetnya, jumlah entitas dipangkas menjadi sekitar 300 perusahaan yang dinilai punya skala dan daya saing kuat.

Telkom misalnya, berencana memangkas 66 anak usaha menjadi belasan entitas dengan fokus pada empat pilar utama. Semen Indonesia akan menutup 17 perusahaan, sementara Pupuk Indonesia melikuidasi hingga 47 anak usaha. Di sektor infrastruktur, merger tujuh BUMN Karya ditargetkan rampung pertengahan 2026.

Untuk IPO, Danantara memastikan tidak ada BUMN yang melantai di bursa pada 2026. Rencana IPO baru akan dimulai pada 2027, setelah 41 agenda strategis seperti restrukturisasi dan penataan aset selesai.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menilai absennya BUMN dari antrean IPO tahun ini tidak otomatis melemahkan kredibilitas pasar. Justru, kondisi ini bisa jadi masa konsolidasi dan membuka ruang bagi emiten swasta yang punya fundamental kuat dan transparansi tinggi untuk tampil memimpin pasar.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.