BFDCnews.com, Jakarta – Rencana Indonesia buat ekspor beras ke Malaysia ternyata masih belum deal. Sampai sekarang, negosiasinya masih alot di soal harga.
Dirut Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, bilang kalau pembicaraan sejauh ini fokusnya memang di harga. Dari sisi kualitas sih nggak ada masalah—Malaysia sudah oke. Tapi soal angka, masih belum ketemu titik tengah.
“Kemarin kita nego harga, tapi belum cocok. Menurut kami harganya masih terlalu rendah, jadi harus dinaikkan,” jelasnya, Kamis (23/4/2026).
Masalahnya, pihak Malaysia nawar di bawah Rp10.000 per kg. Sementara Indonesia, lewat Bulog, maunya di kisaran Rp13.000–Rp14.000 per kg. Soalnya, beras yang ditawarkan termasuk premium, dengan tingkat butir patah cuma sekitar 5%.
Sebagai perbandingan, beras premium lokal dengan kualitas lebih rendah (butir patah sekitar 15%) aja di dalam negeri sekarang ada di kisaran Rp14.900 per kg.
Ahmad juga menegaskan, Bulog nggak mau asal setuju kalau harganya merugikan.
“Kalau segitu, nggak mungkin. Masa kita malah subsidi ke negara lain,” tegasnya.
Apalagi, harga beras program dalam negeri (SPHP) saja sudah di angka Rp12.500 per kg. Jadi kalau ekspor di bawah Rp10.000, jelas dianggap terlalu murah.
Untuk sekarang, rencana ekspor ini masih terus dibahas, termasuk soal volume dan skema kerja samanya. Kabarnya, Malaysia sempat tertarik dengan sekitar 200.000 ton beras dari Indonesia.
Sementara itu, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, juga bilang kalau pembahasan masih jalan dan belum ada keputusan final.
