Jakarta, BFDCnews.com — Nilai tukar rupiah dibuka melemah di perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (17/4/2026), saat berhadapan dengan dolar AS.
Mengacu data Refinitiv, rupiah pagi ini dibuka di level Rp17.150 per dolar AS, atau turun sekitar 0,15%. Padahal sehari sebelumnya, Kamis (16/4), rupiah masih sempat menguat tipis 0,03% ke Rp17.125 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) juga terlihat naik tipis 0,04% ke posisi 98,245 per pukul 09.00 WIB.
Kenapa Rupiah Melemah?
Pergerakan rupiah jelang akhir pekan ini banyak dipengaruhi faktor eksternal. Salah satunya karena dolar AS lagi menguat, yang tercermin dari kenaikan indeks DXY—indikator kekuatan dolar terhadap mata uang utama dunia.
Dolar AS sendiri kembali menguat setelah sebelumnya sempat tertekan. Penguatan ini dipicu technical rebound, ditambah pelaku pasar yang masih menunggu perkembangan soal potensi kesepakatan damai antara AS dan Iran.
Presiden AS Donald Trump bahkan bilang konflik AS-Israel dengan Iran sudah “mendekati akhir”. Gedung Putih juga cukup optimistis kesepakatan damai bisa tercapai, dengan rencana pertemuan lanjutan yang kemungkinan digelar di Pakistan akhir pekan ini.
Situasi ini bikin dolar AS kembali dilirik investor. Kalau tren ini berlanjut, mata uang lain—termasuk rupiah—bisa makin tertekan.
Tapi Ada Kabar Baik
Di tengah tekanan tersebut, ada sentimen positif dari dalam negeri. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa lembaga pemeringkat Standard & Poor’s (S&P) tetap mempertahankan rating kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil.
Artinya, Indonesia masih masuk kategori layak investasi (investment grade) dengan risiko gagal bayar yang relatif rendah.
Menurut Purbaya, S&P cukup fokus menyoroti kondisi fiskal Indonesia, terutama soal konsistensi pemerintah dalam menjaga defisit anggaran tetap di bawah 3% dari PDB.
Jadi meskipun rupiah lagi melemah, fundamental ekonomi Indonesia masih dinilai cukup solid oleh lembaga internasional.
