Jakarta, BFDCnews.com – Rupiah kembali babak belur di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Selasa (12/5/2026).
Mengacu data Refinitiv, per pukul 10.03 WIB rupiah melemah 0,59% ke posisi Rp17.505 per dolar AS. Level ini jadi titik terlemah rupiah sepanjang sejarah secara intraday, sekaligus membuat level psikologis Rp17.500/US$ resmi jebol.
Pelemahan kali ini menambah daftar panjang masa-masa sulit yang pernah dialami mata uang Garuda. Sepanjang sejarah, rupiah beberapa kali masuk fase krisis akibat kombinasi faktor ekonomi, politik, hingga gejolak global.
1. Awal Krisis Moneter 1997
Pada Agustus hingga Oktober 1997, rupiah mulai terjun bebas dari kisaran Rp2.500 per dolar AS ke level Rp3.000-an.
Tekanan spekulasi yang begitu besar membuat Bank Indonesia akhirnya melepas sistem managed floating dan beralih ke kurs mengambang bebas karena cadangan devisa sudah tidak cukup kuat menahan rupiah.
Situasi makin memburuk hingga pemerintah akhirnya meminta bantuan IMF pada akhir Oktober 1997.
2. Masa Paling Kelam Tahun 1998
Mei sampai Juni 1998 jadi salah satu periode tergelap bagi rupiah.
Pada 16 Juni 1998, rupiah sempat ditutup di level Rp15.200/US$, bahkan secara intraday pernah menyentuh Rp16.800/US$.
Krisis ekonomi saat itu melebar jadi krisis politik dan sosial. Kerusuhan besar pecah setelah tragedi Trisakti, investor asing kabur, dan situasi makin panas ketika Presiden Soeharto mundur pada 21 Mei 1998.
3. Gejolak Politik 2001
Masuk era reformasi, rupiah kembali goyah pada April 2001.
Saat itu, konflik politik antara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan DPR dan MPR membuat pasar cemas. Rupiah pun bergerak di kisaran Rp10.500-Rp12.000 per dolar AS.
Hubungan pemerintah dengan IMF yang memanas juga ikut memperburuk sentimen pasar.
4. Krisis Finansial Global 2008
Pada Oktober-November 2008, rupiah kembali dihantam krisis global setelah bangkrutnya Lehman Brothers di AS.
Investor global ramai-ramai menarik dana dari negara berkembang dan memburu aset aman seperti dolar AS.
Akibatnya, rupiah yang sebelumnya ada di kisaran Rp9.000-an langsung melemah ke Rp12.000-an per dolar AS.
5. Tekanan Berat Tahun 2015
Rupiah kembali tertekan pada 2015 seiring penguatan dolar AS dan kebijakan The Fed.
Pada September 2015, rupiah ditutup di level Rp14.645/US$ setelah melemah hampir 16% sepanjang tahun.
Selain faktor global, devaluasi yuan China dan tingginya kebutuhan dolar di dalam negeri ikut memperparah tekanan.
6. Gejolak Emerging Market 2018
Pada September-Oktober 2018, rupiah kembali goyah akibat krisis di sejumlah negara emerging market seperti Turki dan Argentina.
Investor kembali memburu dolar AS dan membuat rupiah sempat menyentuh Rp15.230/US$.
7. Pandemi Covid-19 Tahun 2020
Maret 2020 jadi salah satu masa paling berat sejak reformasi.
Pandemi Covid-19 membuat pasar global panik. Rupiah bahkan sempat menyentuh Rp16.550/US$ dan anjlok lebih dari 13% hanya dalam sebulan.
Investor asing ramai-ramai keluar dari pasar saham dan obligasi Indonesia untuk pindah ke aset safe haven.
8. Dampak Suku Bunga Tinggi AS Tahun 2024
Pada pertengahan 2024, rupiah kembali tembus Rp16.400/US$.
Penyebab utamanya datang dari kebijakan suku bunga tinggi The Fed yang bertahan lebih lama karena inflasi AS masih sulit turun.
Kondisi ini membuat dolar AS makin perkasa dan modal asing keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
9. Efek Kebijakan Tarif Trump Tahun 2025
April 2025 jadi periode berat berikutnya setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif global agresif.
Rupiah sempat ditutup di Rp16.850/US$ dan bahkan menyentuh Rp16.970/US$ secara intraday.
Pasar global saat itu kembali memburu aset berbasis dolar AS.
10. Awal 2026 Makin Berat
Masuk Januari 2026, tekanan terhadap rupiah belum juga reda.
Rupiah sempat ditutup di Rp16.935/US$, menjadi level penutupan terlemah sepanjang masa saat itu.
Selain faktor dolar AS yang makin kuat, kekhawatiran investor terhadap defisit APBN Indonesia juga ikut membebani rupiah.
11. April 2026 Sampai Tembus Rp17.000
Tekanan makin parah pada April 2026.
Rupiah resmi menembus Rp17.000/US$ pada awal April dan terus mencetak rekor pelemahan baru. Bahkan pada 23 April 2026, rupiah sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS.
Kini, dengan rupiah sudah menembus Rp17.500/US$, pasar kembali dibuat waswas apakah tekanan terhadap mata uang Garuda masih akan berlanjut atau mulai mereda dalam waktu dekat.
