Efek BI Rate Naik? Rupiah Kembali Taklukkan Dolar AS ke Rp17.950

akarta, BFDCnews.com – Rupiah akhirnya kembali menunjukkan taringnya. Setelah beberapa hari berada di atas level psikologis Rp18.000 per dolar AS, mata uang Garuda berhasil keluar dari tekanan dan ditutup menguat pada perdagangan Rabu (10/6/2026).

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,55% ke posisi Rp17.950 per dolar AS. Ini menjadi kabar positif karena rupiah kembali berada di bawah level Rp18.000 per dolar AS setelah sempat menembus angka tersebut pada 4 Juni lalu.

Sepanjang perdagangan hari ini, performa rupiah sebenarnya sempat lebih impresif. Mata uang Garuda dibuka di level Rp17.875 per dolar AS atau menguat hampir 1%. Namun, penguatan itu sempat tergerus hingga kembali menyentuh area Rp18.000 per dolar AS sebelum akhirnya berhasil menutup perdagangan dengan penguatan yang cukup solid.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia juga terlihat melemah. Hingga pukul 15.00 WIB, indeks tersebut turun tipis 0,03% ke level 99,882.

Penguatan rupiah hari ini masih dipengaruhi respons positif pasar terhadap langkah tak terduga Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% pada Selasa (9/6/2026).

Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan yang secara khusus mengevaluasi perkembangan ekonomi dan efektivitas bauran kebijakan moneter yang telah ditetapkan sebelumnya.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga dilakukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global, terutama akibat konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah.

Selain menjaga rupiah, langkah ini juga bertujuan memastikan inflasi tetap berada dalam target pemerintah, yakni 2,5% plus minus 1% pada 2026 dan 2027.

Menurut Perry, hasil evaluasi sejak RDG Bulanan pada Mei lalu menunjukkan tekanan terhadap rupiah lebih besar dibandingkan perkiraan sebelumnya. Selain dipengaruhi gejolak global, tingginya kebutuhan valuta asing di dalam negeri dan keluarnya dana asing dari pasar keuangan Indonesia juga ikut menekan pergerakan rupiah.

Tak hanya faktor domestik, sentimen global juga ikut membantu penguatan mata uang Garuda hari ini. Dolar AS melemah setelah harga minyak dunia terkoreksi cukup tajam.

Penurunan harga minyak terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memberikan sinyal positif terkait kemungkinan tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran dalam waktu dekat.

Trump bahkan menyebut Selat Hormuz berpotensi kembali dibuka setelah kesepakatan tersebut tercapai. Pernyataan itu membuat kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global sedikit mereda dan ikut menekan penguatan dolar AS.

Kombinasi kebijakan BI yang lebih agresif dan melemahnya dolar AS di pasar global akhirnya menjadi amunisi bagi rupiah untuk kembali bangkit dan meninggalkan level Rp18.000 per dolar AS.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.