JAKARTA – Harga emas dunia masih lanjut ngegas. Di tengah kondisi global yang belum pasti dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih bikin pasar harap-harap cemas, emas tetap jadi buruan sebagai aset safe haven.
Pada perdagangan Kamis (19/2/2026) pagi, harga emas parkir di sekitar US$ 4.976,92 per ons troi. Angka ini terbilang solid setelah sebelumnya sempat terkoreksi lebih dari 2%. Sepanjang 2026, emas sudah naik 15,24% — performa yang cukup kinclong.
Minat beli juga mulai naik lagi jelang rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC), yang biasanya jadi petunjuk penting buat membaca arah suku bunga bank sentral AS.
Saat ini, The Federal Reserve (The Fed) masih menahan suku bunga di level 3,5%–3,75%. Tapi karena ada perbedaan pandangan di internal soal kapan pelonggaran bakal dilakukan, pelaku pasar masih cenderung waspada.
Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, melihat secara teknikal tren emas makin mantap. Pola candlestick dan indikator Moving Average sama-sama mengarah naik.
“Tren bullish masih dominan. Kalau momentumnya terus terjaga, emas berpeluang menguji resistance berikutnya di kisaran US$ 5.041 per ons troi. Tapi tetap waspada kalau momentum mulai melemah,” ujar Andy.
Untuk level pengaman, support penting ada di sekitar US$ 4.911 per ons troi. Kalau tembus ke bawah, ada risiko koreksi lebih dalam sebelum harga kembali stabil.
Dari sisi fundamental, situasi geopolitik juga ikut mendongkrak daya tarik emas. Pernyataan Wakil Presiden AS JD Vance soal negosiasi nuklir Iran bikin pasar makin tegang, apalagi setelah Presiden Donald Trump membuka kemungkinan opsi militer jika jalur diplomasi buntu.
Kondisi seperti ini biasanya bikin investor cari aman — dan emas jadi pilihan utama.
Selain itu, arah kebijakan The Fed tetap jadi katalis besar. Risalah FOMC terbaru menunjukkan sebagian pejabat masih khawatir soal inflasi, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga lagi kalau tekanan harga naik. Hal ini sempat menguatkan dolar AS, yang biasanya jadi “lawan” emas.
Namun, data ekonomi AS yang campur aduk bikin pasar bergerak dinamis. Inflasi yang mulai turun memberi harapan pelonggaran, tapi pasar tenaga kerja yang masih kuat menunjukkan ekonomi belum melemah. Kombinasi ini bikin emas tetap menarik, meski volatilitas tinggi.
Ke depan, pasar bakal mencermati data penting seperti klaim pengangguran awal, penjualan rumah tertunda, PDB, dan indeks PCE. Data-data ini bakal jadi penentu arah kebijakan The Fed sekaligus pergerakan emas dalam jangka pendek.
Kesimpulannya, selama sentimen safe haven masih kuat dan indikator teknikal mendukung, peluang emas buat lanjut naik masih terbuka. Tapi dengan resistance di US$ 5.041 dan support di US$ 4.911, investor tetap disarankan disiplin atur risiko karena pergerakan emas dalam waktu dekat masih bisa naik-turun cukup tajam.
