Jakarta, BFDCnews.com – Harga minyak dunia kembali naik pada perdagangan Jumat pagi (8/5/2026), setelah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas meski sebelumnya sempat ada gencatan senjata.
Pasar yang tadinya berharap situasi mulai mereda kini kembali khawatir soal gangguan pasokan energi global, terutama dari Selat Hormuz yang jadi jalur penting perdagangan minyak dan gas dunia.
Berdasarkan data Refinitiv per pukul 09.30 WIB, harga minyak Brent naik 1,38% ke level US$101,44 per barel. Sebelumnya, Brent ditutup di US$100,06 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga ikut menguat 1,07% ke posisi US$95,82 per barel dari sebelumnya US$94,81 per barel.
Kenaikan ini sekaligus menghentikan tren penurunan harga minyak selama tiga hari terakhir. Sebelumnya, harga Brent sempat turun dari US$109,87 per barel pada 5 Mei menjadi sekitar US$100 per barel.
Reuters melaporkan lonjakan harga minyak dipicu saling tuding antara Washington dan Teheran terkait pelanggaran gencatan senjata yang sudah berjalan sekitar satu bulan.
Iran menuduh AS menyerang kapal tanker minyak dan wilayah sipil di sekitar Selat Hormuz. Sementara AS mengklaim serangan itu merupakan balasan setelah Iran menembaki kapal perang AS yang melintas di kawasan tersebut.
Meski bentrokan kembali pecah, Presiden AS Donald Trump masih menegaskan bahwa gencatan senjata tetap berlaku.
Pelaku pasar kini kembali fokus pada potensi terganggunya pasokan energi global. Selama konflik berlangsung, Selat Hormuz memang beberapa kali mengalami gangguan, padahal jalur ini menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak dunia.
Analis IG Tony Sycamore mengatakan kondisi suplai minyak saat ini masih ketat, sementara peluang tercapainya kesepakatan damai juga belum terlihat jelas.
Di tengah situasi tersebut, pasar juga dihebohkan dengan penyelidikan Commodity Futures Trading Commission (CFTC) AS terkait transaksi minyak senilai US$7 miliar.
Transaksi itu diduga terjadi menjelang pengumuman penting Donald Trump soal perang Iran. Sebagian besar transaksi berupa posisi short atau taruhan harga minyak turun, yang dilakukan sebelum pengumuman penundaan serangan dan gencatan senjata diumumkan.
