BFDCnews.com – Harga nikel langsung naik di awal pekan ini, Senin (27/4/2026). Penyebabnya? Pasar lagi khawatir soal pasokan dari Indonesia yang bisa makin ketat, ditambah sulfur yang langka gara-gara konflik di Timur Tengah.
Di pasar Shanghai Futures Exchange, kontrak nikel paling aktif naik 3,53% ke 150.000 yuan per ton, bahkan sempat nyentuh level tertinggi sejak akhir Januari. Sementara di London Metal Exchange (LME), harga nikel tiga bulan juga ikut naik 1,68% ke USD19.335 per ton—level tertinggi sejak Juni 2024.
Kekhawatiran soal pasokan makin kuat setelah perusahaan tambang Eramet ngumumin bakal berhenti produksi sementara di tambang Weda Bay, Indonesia, mulai bulan depan. Katanya, kuota bijih nikel mereka diperkirakan habis di pertengahan Mei, jadi operasional bakal masuk fase maintenance.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia juga menetapkan kuota produksi bijih nikel tahun 2026 lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. Ini makin bikin pasar was-was soal ketersediaan nikel global.
Analis bilang, kondisi sekarang bukan cuma soal rencana pengurangan, tapi sudah mulai kelihatan realisasinya di lapangan. Makanya, dana spekulatif mulai balik lagi ke pasar nikel.
Nggak cuma itu, harga nikel juga ikut terdorong karena sulfur lagi langka. Penyebabnya, Selat Hormuz masih tertutup akibat mandeknya negosiasi damai antara AS dan Iran. Padahal, sebelum konflik, Timur Tengah nyumbang sekitar setengah pasokan sulfur laut dunia.
Akibatnya, harga sulfur melonjak dan bisa bikin biaya produksi nikel ikut naik di berbagai negara.
Sementara itu, logam lain juga ikut menguat. Di Shanghai, tembaga, aluminium, timbal, timah, dan seng semuanya naik tipis. Di LME, sebagian besar juga naik, walaupun ada yang sedikit melemah seperti timah.
Intinya, kombinasi pasokan yang ketat dan gangguan global lagi bikin harga nikel dan logam lainnya ikut terdorong naik.