Jakarta – IHSG langsung dibuka merah pekat pagi ini, Senin (2/3/2026). Indeks ambruk 142,58 poin atau turun 1,73% ke level 8.092,90 di awal perdagangan. Bahkan cuma selang satu menit setelah bel dibuka, penurunannya makin dalam hingga lebih dari 2%.
Mayoritas saham ikut terseret. Tercatat 556 saham turun, cuma 56 yang naik, dan 103 stagnan. Nilai transaksi pagi ini sudah tembus Rp708,27 miliar dari hampir 1 miliar saham yang diperdagangkan dalam lebih dari 104 ribu transaksi.
Pasar Dibayangi Sentimen Global
Masuk pekan pertama Maret 2026, pelaku pasar memang dihadapkan pada kombinasi sentimen berat: ketegangan geopolitik dan rilis data ekonomi penting.
Tekanan utama datang dari luar negeri. Situasi Timur Tengah memanas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada Sabtu (28/2/2026). Serangan tersebut menewaskan sejumlah pejabat penting Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.
Ketegangan ini memicu kekhawatiran konflik berkepanjangan dan bikin investor global makin waspada. Ada kekhawatiran dana asing bakal keluar dari negara emerging markets, termasuk Indonesia.
Tak cuma itu, mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad juga dilaporkan tewas dalam serangan rudal di Teheran. Militer Israel menyebut operasi awal menewaskan sekitar 40 komandan senior Iran dan mengindikasikan serangan bisa diperluas ke fasilitas nuklir.
Situasi ini otomatis jadi sentimen utama pasar global di awal bulan.
Bursa Asia Ikut Berguguran
Mengutip CNBC, bursa Asia-Pasifik kompak melemah pada perdagangan Senin. Pasar khawatir konflik ini bakal mengganggu pasokan energi global dan memperparah ketegangan geopolitik.
Presiden AS Donald Trump mengatakan operasi militer di Iran akan terus berlanjut setelah tiga personel militer AS tewas. Pernyataan ini makin memperburuk sentimen dan mendorong investor lari ke aset safe haven.
Harga minyak langsung melonjak lebih dari 8%. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di US$72,52 per barel, sementara Brent di US$79,04. Harga emas juga ikut naik 2,3% karena investor berburu aset lindung nilai.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 anjlok hampir 2% saat pembukaan, dan TOPIX turun 2,1%. Meski begitu, saham sektor pertahanan seperti Mitsubishi Heavy Industries dan Kawasaki Heavy Industries justru menguat lebih dari 1%.
Di Australia, indeks S&P/ASX 200 turun 0,38% di awal sesi. Kontrak berjangka Hang Seng juga melemah dibanding penutupan sebelumnya. Bursa Korea Selatan sendiri libur nasional.
Sementara itu di AS, kontrak berjangka indeks saham ikut tertekan. Futures Dow Jones turun sekitar 1%, sedangkan S&P 500 dan Nasdaq-100 juga melemah di kisaran 1%.
Dengan kondisi global yang masih panas, pelaku pasar tampaknya memilih mode wait and see sambil memantau perkembangan terbaru dari Timur Tengah.
