IHSG Mulai Rebound, Bottom Sudah Lewat atau Baru Jebakan?

Jakarta, BFDCnews.com – IHSG memang mulai menunjukkan tanda-tanda bangkit setelah sempat tertekan cukup dalam. Namun, apakah ini benar-benar awal dari tren naik baru? Jawabannya, belum tentu.

Kenaikan dari level terendah di bulan Juni memang memberi sinyal bahwa tekanan jual mulai mereda. Sayangnya, pasar masih belum mendapat dukungan dari sejumlah faktor penting seperti foreign flow, pergerakan rupiah, BI Rate, neraca dagang, hingga konfirmasi dari sisi teknikal.

Salah satu “ganjalan” terbesar masih datang dari investor asing. Sepanjang tahun ini (year to date), investor asing masih mencatatkan net sell sekitar Rp74,42 triliun di pasar saham. Angka ini bukan kecil dan menunjukkan bahwa pelaku pasar global masih belum percaya diri untuk kembali mengambil risiko di Indonesia.

Artinya, meski valuasi saham saat ini sudah jauh lebih murah, harga murah saja belum cukup untuk membuat IHSG melesat dalam jangka panjang.

Untuk saat ini, kenaikan IHSG masih lebih mencerminkan technical rebound dan aksi bargain hunting, bukan sinyal kuat bahwa tren bullish baru sudah dimulai.

Biasanya, jika pemulihan benar-benar sehat, tekanan jual asing akan mulai berkurang, lalu berubah menjadi net buy secara konsisten, terutama di saham-saham besar seperti sektor perbankan, telekomunikasi, konsumsi, hingga energi. Selama pola itu belum terlihat, ruang kenaikan IHSG masih cukup terbatas.

Selain itu, pasar juga dibuat waspada oleh data neraca dagang Indonesia. Pada Mei 2026, Indonesia mencatat defisit perdagangan sebesar US$1,61 miliar. Ini menjadi defisit pertama sejak April 2020 setelah sebelumnya menikmati surplus selama 72 bulan berturut-turut.

Defisit tersebut terutama dipicu oleh sektor migas, di tengah ekspor yang turun 5,73% secara tahunan (yoy) dan impor yang justru melonjak 22,16% yoy.

Kenapa data ini penting? Selama beberapa tahun terakhir, surplus neraca dagang menjadi salah satu penopang utama stabilitas rupiah. Jika bantalan ini mulai melemah, tekanan terhadap rupiah pun berpotensi meningkat.

Bagi investor asing, pelemahan rupiah bisa menggerus keuntungan investasi mereka di saham maupun obligasi Indonesia. Jadi, defisit neraca dagang bukan sekadar angka ekspor dan impor, tetapi juga menjadi sinyal bahwa fondasi eksternal ekonomi Indonesia sedang diuji.

Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia juga diperkirakan masih akan mempertahankan sikap yang cenderung defensif. Dengan rupiah yang belum stabil dan arus dana asing yang masih keluar, ruang untuk memangkas BI Rate dalam waktu dekat masih cukup terbatas.

Suku bunga yang tetap tinggi memang membantu menjaga stabilitas ekonomi, tetapi di sisi lain membuat likuiditas lebih ketat, biaya dana meningkat, dan valuasi saham menjadi lebih sulit naik cepat.

Untuk sektor perbankan, kondisi ini ibarat pisau bermata dua. Bank-bank besar masih memiliki fundamental yang kuat, laba yang solid, dan valuasinya mulai menarik. Namun jika kondisi ekonomi riil terus melambat, investor tetap akan mencermati pertumbuhan kredit, kualitas aset, hingga potensi meningkatnya kredit bermasalah.

Di sisi lain, tekanan terhadap ekonomi riil juga mulai terlihat. Isu PHK di sektor padat karya, manufaktur, tekstil, teknologi, hingga konsumsi menjadi sinyal bahwa daya beli masyarakat belum benar-benar pulih.

Jika gelombang PHK berlanjut, dampaknya bisa merembet ke konsumsi rumah tangga, penjualan ritel, kredit konsumsi, hingga kualitas kredit perbankan.

Inilah yang membuat pasar masih memilih bersikap hati-hati. Investor tidak hanya melihat apakah ekonomi masih tumbuh, tetapi juga menilai seberapa berkualitas pertumbuhan tersebut. Jika pertumbuhan lebih banyak ditopang belanja pemerintah sementara konsumsi dan sektor swasta melemah, pasar biasanya masih akan memberikan diskon terhadap valuasi saham.

Meski begitu, dari sisi valuasi, IHSG sebenarnya mulai terlihat menarik. Banyak saham blue chip dan emiten dengan fundamental kuat sudah mengalami koreksi cukup dalam.

Beberapa saham perbankan besar bahkan diperdagangkan jauh di bawah rata-rata valuasi historisnya, mendekati atau bahkan berada di bawah level -2 standar deviasi.

Kondisi ini membuat rasio risk-reward untuk investor jangka panjang mulai terlihat lebih menarik. Saham-saham unggulan yang sebelumnya terasa mahal kini kembali diperdagangkan pada level yang jauh lebih rasional. Karena itu, area seperti sekarang mulai layak dipertimbangkan untuk strategi akumulasi secara bertahap.

Namun, perlu diingat bahwa pasar saham tidak otomatis naik hanya karena valuasinya murah. Saham murah bisa tetap murah cukup lama jika kondisi makro belum membaik.

Agar IHSG benar-benar memasuki tren naik yang lebih kuat, pasar masih membutuhkan sejumlah katalis. Mulai dari membaiknya foreign flow, rupiah yang lebih stabil, peluang penurunan BI Rate, neraca dagang yang kembali surplus, hingga hasil penilaian dari S&P yang tidak memberikan tekanan tambahan terhadap Indonesia.

Secara teknikal, level 6.450 menjadi area yang sangat penting. Selama IHSG belum mampu menutup perdagangan mingguan (weekly close) di atas level tersebut dengan candle yang kuat, tren kenaikan belum bisa dianggap terkonfirmasi.

Jika level itu belum berhasil ditembus, skenario yang paling realistis adalah IHSG bergerak sideways dalam beberapa waktu ke depan.

Sementara itu, area support penting berada di kisaran 5.650, kemudian 5.300–5.400. Selama area tersebut masih bertahan, IHSG masih berpeluang membentuk dasar (base) yang lebih kuat. Namun jika support itu jebol, peluang untuk kembali menguji level terendah sebelumnya masih terbuka.

Kesimpulannya, IHSG saat ini memang mulai terlihat menarik, tetapi belum bisa dibilang benar-benar aman. Valuasi yang murah dan diskon di banyak saham blue chip membuka peluang bagi investor jangka panjang.

Namun selama arus dana asing belum kembali masuk, rupiah belum stabil, BI Rate masih tinggi, neraca dagang belum kembali surplus, dan tekanan di ekonomi riil masih terasa, pasar masih membutuhkan konfirmasi lebih kuat.

Karena itu, strategi yang paling masuk akal saat ini bukan mengejar euforia, melainkan melakukan akumulasi secara bertahap sambil menunggu katalis yang lebih jelas.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.