Jakarta – Nama Timothy Ronald lagi ramai dibicarakan setelah muncul dalam laporan dugaan penipuan terkait trading kripto. Laporan ini diajukan terkait transaksi aset digital yang disebut menimbulkan kerugian bagi sejumlah pihak.
Pelapor berinisial Y menyebut, sebagian besar korban berusia 18–27 tahun dengan total kerugian miliaran rupiah. Para korban mengaku sempat dijanjikan imbal hasil tinggi dari investasi kripto, tapi malah rugi.
Timothy bukan sosok baru di dunia kripto Indonesia. Sebagai influencer dan pegiat trading aset digital, ia dikenal lewat konten edukasi, kelas, dan komunitas yang dibangunnya. Selama ini, Timothy memposisikan diri sebagai penggerak literasi investasi kripto.
Menurut catatan detikcom, Timothy mulai menekuni investasi sejak usia 15 tahun. Terinspirasi dari legenda investasi seperti Warren Buffett dan buku-buku klasik seperti The Intelligent Investor karya Benjamin Graham, ia mempelajari seluk-beluk pasar modal.
“Investasi bukan sekadar mencari untung, tapi juga memahami bagaimana bisnis bekerja sebenarnya,” ujarnya, dikutip Senin (12/1/2026).
Untuk modal awal, Timothy berjualan pomade dan sedotan. Di usia 19 tahun, ia mendirikan Ternak Uang, platform edukasi finansial yang fokus meningkatkan literasi keuangan masyarakat Indonesia.
Seiring berkembangnya teknologi blockchain, Timothy juga mendirikan Akademi Crypto, tempat belajar teknologi blockchain dan investasi kripto khusus generasi muda.
Berdasarkan LinkedIn pribadinya, Timothy pernah memegang beberapa posisi penting, antara lain: owner Ternak Uang, CEO Akademi Crypto, commissioner Holywings Group, dan co-owner FLOQ.
Saat ini, Timothy aktif membagikan konten investasi di YouTube pribadinya @TimothyRonald. Ia juga berpartner dengan rekannya sesama trader, Kalimasada, yang ikut terseret dalam laporan dugaan penipuan ini.
