BFDCnews.com, JAKARTA — Kementerian UMKM berencana memanggil platform e-commerce seperti TikTok Shop, Shopee, dan lainnya gara-gara biaya logistik (ongkir) yang naik sejak Mei 2026. Kenaikan ini bikin banyak seller ngeluh, bahkan ada juga UMKM yang mulai cabut dari platform dan pilih jualan sendiri.
Wakil Menteri UMKM, Helvi Yuni Moraza, bilang pemerintah lagi nyiapin langkah buat merespons situasi ini. Salah satunya dengan ngumpulin semua pihak terkait—mulai dari platform, asosiasi peritel, sampai sektor logistik—biar bisa duduk bareng cari solusi.
“Intinya kita mau semua pihak ngobrol bareng. Nggak bisa jalan sendiri-sendiri, apalagi UMKM itu punya peran besar buat ngurangin kemiskinan dan buka lapangan kerja,” kata Helvi saat konferensi pers di InaBuyer Expo 2026 di Smesco, Jakarta.
Dia juga menegaskan, pemerintah nggak mau kebijakan bisnis dari platform justru bikin pelaku usaha kecil makin tertekan. Fokusnya sekarang adalah bangun ekosistem yang saling support, dari usaha ultramikro sampai perusahaan besar.
Saat ini, komunikasi awal dengan platform e-commerce juga sudah mulai dilakukan. Dalam waktu dekat, bakal ada pertemuan lanjutan yang melibatkan Menteri UMKM untuk bahas solusi lebih konkret.
“Pemerintah nggak mau ada pihak yang dirugikan. Semua pelaku usaha, dari kecil sampai besar, punya peran penting buat ngejar target pertumbuhan ekonomi 8%,” lanjutnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian UMKM, Temmy Satya Permana, bilang pertemuan dengan platform kemungkinan digelar dalam waktu dekat.
“Insya Allah minggu depan kita atur jadwalnya, biar Pak Menteri, Pak Wamen, dan semua pihak bisa kumpul,” ujarnya.
Menurut Temmy, sampai sekarang pemerintah memang belum ngobrol langsung dengan platform soal kenaikan ongkir ini. Makanya, mereka ingin cari tahu dulu akar masalahnya.
“Kita mau ngerti dulu, kenapa sih ongkirnya naik? Selama ini kan sudah ada biaya admin dan layanan, sekarang logistik ikut naik, kita pengen tahu alasannya,” jelasnya.
Dia juga mengakui tren UMKM yang mulai keluar dari platform dan beralih jualan mandiri memang sudah terjadi. Bahkan, dia sendiri sudah beberapa kali ketemu pelaku usaha yang merasa jualan di luar platform lebih cuan.
Tapi, Temmy mengingatkan, jualan mandiri juga punya risiko. Misalnya kasus COD yang berujung barang dikembalikan, tapi ongkir tetap harus ditanggung penjual.
Jadi, meskipun potensi untungnya lebih besar, risikonya juga nggak kecil.
Di sisi lain, pemerintah juga nggak bakal maksa pelaku usaha buat tetap jualan di platform tertentu.
“Ini kan soal bisnis. Pelaku usaha pasti pilih yang paling menguntungkan buat mereka. Kita nggak bisa maksa harus di platform tertentu,” tutupnya.
