Harga emas dunia lagi kena tekanan berat. Pada Kamis (12/1/2026), emas anjlok lebih dari 3% dan memperpanjang koreksi tajam yang sudah terjadi sebelumnya.
Turunnya harga ini terjadi di tengah gelombang jual di berbagai instrumen investasi. Banyak investor terpaksa melepas emas untuk memenuhi margin call dan menutup kerugian di aset lain.
Berdasarkan data pasar, emas spot (XAU/USD) ambles 3,20% ke level US$4.920,81 per troy ons.
Mengutip Trading Economics, penurunan ini terjadi meskipun imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun justru turun ke level terendah dalam lebih dari dua bulan. Artinya, pelemahan emas kali ini bukan karena kekhawatiran suku bunga naik, tapi lebih karena kebutuhan likuiditas jangka pendek dan aksi “bongkar posisi” setelah reli panjang.
Nggak cuma emas, perak dan tembaga juga ikut rontok. Ini menandakan tekanan jual memang lagi meluas di pasar logam.
Padahal, pelaku pasar masih memperkirakan data inflasi AS (CPI) bakal melandai dan masih menghitung kemungkinan dua kali pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve tahun ini. Tapi untuk jangka pendek, pasar lebih sibuk deleveraging ketimbang mikirin arah kebijakan moneter.
Emas sendiri kini kembali turun ke bawah US$5.000 per troy ons, setelah sebelumnya sempat reli ke kisaran US$5.100 pekan ini.
Menurut Fawad Razaqzada dari Forex.com, kemampuan emas untuk cepat kembali menembus US$5.000 bakal jadi penentu arah tren jangka pendek.
Ia juga menilai pasar sudah “menyapu” likuiditas besar di area bawah, dan pergerakan selanjutnya akan sangat bergantung pada reaksi harga di level teknikal penting.
Meski sedang tertekan, fondasi emas sebenarnya masih cukup kuat. Penurunan imbal hasil obligasi, aksi beli yang konsisten dari bank sentral, serta ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi bisa jadi penopang harga setelah tekanan likuidasi mulai mereda.
