Jakarta – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran lagi jadi sorotan pasar global. Dampaknya? Pasar saham Indonesia, termasuk IHSG, berpotensi ikut goyang dalam waktu dekat.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menilai konflik ini bisa bikin IHSG lebih volatil. Koreksi tipis sampai masuk fase konsolidasi bearish dinilai jadi respons wajar pasar terhadap sentimen global yang lagi panas.
“Sudah pasti akan memicu volatilitas. Koreksi wajar dan fase konsolidasi bearish dalam jangka pendek itu sangat mungkin terjadi,” ujarnya, Minggu, 1 Maret 2026.
Tapi jangan panik dulu. Menurut Nafan, kondisi seperti ini justru bisa jadi momen buat berburu saham diskonan. Banyak saham bagus dengan fundamental kuat yang harganya bisa jadi lebih murah saat pasar terkoreksi.
Sektor energi dan logam dinilai bisa jadi pilihan defensif. Soalnya, kalau harga komoditas global naik, emiten migas dan tambang logam mulia berpotensi ikut terdongkrak. Minat ke emas juga biasanya naik saat situasi global lagi tidak pasti.
Investor tetap diingatkan untuk disiplin soal manajemen risiko. Kalau nanti ada kabar perundingan atau gencatan senjata, sentimen pasar bisa cepat membaik dan jadi momentum rebound.
“Kalau IHSG terkoreksi, banyak saham jadi undervalued. Itu bisa jadi peluang akumulasi, tentu dengan tetap mengedepankan analisis fundamental,” jelasnya.
Minyak Dunia Jadi Sorotan
Di sisi lain, konflik di Timur Tengah bikin pasar khawatir soal pasokan minyak global. Ancaman gangguan distribusi energi jadi perhatian serius.
Salah satu titik krusialnya ada di Selat Hormuz, jalur yang menguasai sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Kalau distribusi terganggu, harga energi bisa melonjak dan inflasi global ikut terdorong.
Dampaknya ke Rupiah dan Ekonomi RI
Buat Indonesia yang masih net importir minyak, kenaikan harga energi jelas bukan kabar baik. Defisit neraca perdagangan bisa melebar, inflasi naik, dan biaya logistik makin mahal.
Situasi ini juga bisa bikin suku bunga global bertahan tinggi lebih lama. Investor asing cenderung pindah ke aset safe haven seperti emas, yang berujung pada capital outflow dari pasar negara berkembang.
Tekanan ke rupiah pun berpotensi meningkat. Kalau rupiah melemah, inflasi impor dan beban utang luar negeri bisa ikut naik.
Meski begitu, Nafan tetap optimistis ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh di kisaran 5 persen, ditopang konsumsi domestik yang cukup kuat.
“Ekonomi kita masih relatif solid. Tapi tetap harus siap menghadapi risiko kenaikan harga energi dan tekanan inflasi,” tutupnya.
