BFDCnews – Saham emas lagi kinclong banget. Di tengah harga emas dunia yang melonjak dan situasi geopolitik yang makin nggak pasti, prospeknya masih kelihatan menjanjikan.
Riset dari NH Korindo Sekuritas Indonesia (NHKSI) yang rilis Jumat (20/2/2026) bahkan masih kasih rekomendasi overweight buat komoditas emas. Targetnya nggak main-main: tembus USD6.000 per troy ons di akhir tahun.
Menurut NHKSI, tensi geopolitik yang terus panas dan arah perdagangan global yang cepat berubah bikin emas tetap jadi “pelabuhan aman” alias safe haven. Apalagi kalau The Fed jadi memangkas suku bunga, itu bisa jadi bahan bakar tambahan buat harga emas naik lagi.
Dari sisi global, bank sentral juga masih rajin nambah cadangan emas. Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, China, dan Rusia tercatat terus akumulasi emas dalam satu dekade terakhir. Sementara itu, produksi tambang emas dunia justru cenderung stagnan.
Sepanjang 2025, produksi global cuma naik tipis sekitar 1 persen jadi 3.671,6 ton. Artinya, pertumbuhan pasokan melambat, sementara permintaan tetap kuat—kombinasi yang biasanya positif buat harga.
Di dalam negeri, produksi emas juga belum sepenuhnya pulih. Operasional tambang Grasberg Mine sempat terhenti pada September 2025 karena longsor besar. Tahun 2026 diharapkan jadi momen pemulihan, seiring rencana aktifnya kembali Grasberg dan mulai jalannya proyek Pani milik Merdeka Group.
Meski begitu, tantangan perizinan dan progres proyek lain masih bisa jadi penghambat lonjakan produksi yang lebih agresif.
Menariknya, minat masyarakat Indonesia terhadap emas juga tetap tinggi. Survei dari World Gold Council menunjukkan lebih dari 65 persen responden memilih emas sebagai aset favorit, baik dalam bentuk batangan, perhiasan, maupun instrumen berbasis emas.
Dengan bunga deposito yang cuma sekitar 3,5 persen, nggak heran kalau banyak yang lirik emas. Bahkan, tren beli emas ini disebut ikut menahan laju konsumsi domestik.
Soal performa harga? Nggak perlu diragukan. Sepanjang 2025, emas melesat sekitar 44 persen setelah naik 33 persen di 2024. Kinerjanya bahkan ngalahin saham Asia, saham global, obligasi, sampai komoditas lain.
Kalau ngomongin saham, NHKSI menjagokan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS).
ANTM dinilai bakal kecipratan untung dari pemulihan rantai pasok emas dalam negeri, plus ekspansi smelter nikel yang bisa menopang performa jangka menengah.
Sementara EMAS punya salah satu aset emas terbesar yang belum dikembangkan di Asia Pasifik. Potensi produksi puncaknya diperkirakan bisa tembus 500 ribu ons pada 2029, dengan struktur biaya yang cukup kompetitif di level global.
Singkatnya, selama ketidakpastian masih tinggi dan bank sentral terus borong emas, saham-saham emas ini masih layak masuk radar investor.
