BFDCnews.com – Pergerakan mata uang global cenderung santai alias stabil di perdagangan Kamis (2/4/2026). Para investor lagi “wait and see”, nunggu pidato penting dari Presiden AS, Donald Trump, yang diharapkan bisa kasih kejelasan soal peluang gencatan senjata dalam konflik di kawasan Teluk.
Pidato kenegaraan Trump dijadwalkan pukul 21.00 waktu setempat, dan isinya bisa banget nentuin arah pasar global ke depan.
Mengutip Reuters, indeks dolar AS—yang ngukur kekuatan dolar terhadap mata uang lain—relatif stabil di level 99,56, setelah sebelumnya turun 0,3% di hari Rabu.
Selama konflik berlangsung sejak akhir Februari 2026, dolar AS sempat jadi “safe haven” alias tempat aman buat investor. Tapi belakangan, harapan gencatan senjata bikin dolar mulai sedikit melemah dalam dua hari terakhir.
Untuk mata uang lain, euro ada di level USD1,1592 dan poundsterling di USD1,3308. Keduanya nggak banyak berubah di sesi awal Asia, tapi masih mempertahankan penguatan sebelumnya.
Sementara itu, dolar Australia dan dolar Selandia Baru—yang biasanya sensitif sama risiko—juga cenderung stabil, masing-masing di USD0,69265 dan USD0,57495.
Di sisi lain, analis dari Commonwealth Bank of Australia, Carol Kong, ngingetin kalau meskipun militer AS mundur, Iran kemungkinan masih bakal ngebatesin akses ke Selat Hormuz—jalur vital buat sekitar 20% distribusi minyak dan LNG dunia.
“Ditambah kerusakan infrastruktur energi dan transportasi, pasokan energi kemungkinan belum bisa balik normal dalam waktu cepat,” jelasnya.
Yen Jepang sendiri diperdagangkan di level 158,64 per dolar, masih cukup jauh dari level psikologis 160 yang biasanya jadi batas buat intervensi pemerintah Jepang.
Selain pidato Trump, pasar juga lagi nunggu data tenaga kerja AS alias nonfarm payrolls yang bakal rilis Jumat. Diperkirakan ada tambahan sekitar 60.000 lapangan kerja di Maret, berdasarkan survei ekonom oleh Reuters.
Kalau data tenaga kerja ternyata melemah, bisa jadi harapan pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS, Federal Reserve, bakal muncul lagi. Sebelumnya, isu ini sempat meredup gara-gara lonjakan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi.