Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) kembali dalam tekanan. Pada akhir perdagangan sesi I hari Senin (2/2), IHSG turun tajam 442 poin atau -5,31% ke level 7.887.
Volume perdagangan yang terjadi mencapai 353,5 juta lot saham. Volume tersebut menghasilkan nilai transaksi Rp18,94 triliun.
Saham top gainers LQ45: SMGR, PGAS, AADI, ICBP, MAPI, PTBA, TOWR.
Saham top losers LQ45: MDKA, BRPT, BUMI, DSSA, MBMA, EMTK, AMMN.
Seluruh indeks sektor saham merapat ke zona merah. Sektor basic industry melemah paling parah -11,19%. Saham sektor ini yang loyo di antaranya BRPT -14,81%, IMPC -14,71%, TKIM -9,93%, TPIA -9,69%, INKP 8,52%, JPFA -3,25%, CPIN -1,81%
Bursa Asia
Saham-saham Asia mengikuti pergerakan Wall Street yang merosot tajam pada hari Senin (2/2). Karena aksi jual yang kacau di logam mulia menciptakan awal yang menegangkan untuk pekan.
Pasar pekan ini akan disibukkan dengan sentimen laporan keuangan perusahaan, pertemuan bank sentral, dan data ekonomi utama.
Perak melorot 10% lagi pada satu titik, karena penurunan 30% pada hari Jumat pekan lalu menekan posisi leverage dalam perdagangan yang sangat ramai.
Para trader mengatakan tekanan pada dana berjangka perak UBS SDIC di China menambah keruntuhan. Disertai pembicaraan tentang investor yang harus menjual aset yang menguntungkan untuk menutupi margin call.
Yang menambah keresahan adalah langkah CME untuk menaikkan margin pada sejumlah kontrak berjangka, termasuk emas dan perak.
Di pasar komoditas, volatilitas menjadi tema utama karena emas turun 4,1% menjadi $4.665 per ons, setelah turun hampir 10% pada hari Jumat. Perak terakhir turun 7,0% menjadi $78,61, dengan perdagangan yang sangat fluktuatif.
“Kami pikir ini adalah peluang pembelian untuk emas dan perak karena pasar pada akhirnya kembali menunjukkan preferensi terhadap aset berharga dibandingkan dengan dolar AS,” kata Vivek Dhar, seorang ahli strategi pertambangan dan komoditas di CBA seperti dikutip Reuters.
Aktivitas pabrik di China meningkat pesat pada bulan Januari, menurut survei swasta yang dirilis Senin, karena para produsen mempercepat produksi dan memuat kargo menjelang liburan Tahun Baru Imlek yang diperpanjang.
Indeks PMI Manufaktur Umum China RatingDog, yang dilakukan oleh S&P Global, naik menjadi 50,3 pada Januari dari 50,1 pada bulan sebelumnya, sesuai dengan ekspektasi analis sebesar 50,3 dalam jajak pendapat Reuters. Angka di atas patokan 50 menunjukkan ekspansi, sementara angka di bawah itu menunjukkan kontraksi.
Angka tersebut menandai level terkuat sejak Oktober, ketika PMI yang disurvei swasta berada di angka 50,6.
Indeks Saham Asia
Nikkei 225 (Jepang) -0,62%
Topix (Jepang) -0,33%
Shanghai Composite (China) -1,32%
Shenzhen Component (China) -1,41%
CSI300 (China) -1,07%
Hang Seng (Hong Kong) -2,40%
Kospi (Korsel) -3,49%
Taiex (Taiwan) -1,94%
ASX200 (Australia) -1,05%
Asia Currencies
Yen drop 0,09% menjadi 154,92 per USD
SGD turun 0,13% menjadi 1,272 per USD
AUD melemah 0,33% ke posisi 0,6942 per USD
Rupiah melorot 0,11% menjadi 16.805 per USD
Rupee up 0,32% ke 91,6963 per USD
Yuan melaju 0,06% ke 6,9528 per USD
Ringgit turun 0,45% ke 3,947 per USD
Baht melemah 0,22% ke 31,645 per USD
Oil
Harga minyak turun 4% pada hari Senin (2/2) setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan pada akhir pekan bahwa Iran “serius berbicara” dengan Washington. Ini menandakan de-eskalasi setelah risiko serangan militer mendorong harga ke level tertinggi dalam beberapa bulan.
Harga minyak mentah Brent turun $2,81 atau 4,1% menjadi $66,51 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate AS turun $2,70 atau 4,1%, menjadi $62,51 per barel.
Trump telah berulang kali mengancam Iran dengan intervensi jika negara itu tidak menyetujui kesepakatan nuklir atau terus membunuh para demonstran. Ancaman yang terus-menerus ini telah menopang harga minyak sepanjang Januari, kata Priyanka Sachdeva, seorang analis di Phillip Nova.
