Jakarta, BFDCnews.com — Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar AS di perdagangan pagi ini, Rabu (22/4/2026).
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah langsung start di zona hijau dengan kenaikan tipis 0,06% ke level Rp17.130 per dolar AS. Penguatan ini lanjut dari tren positif kemarin, di mana pada penutupan Selasa (21/4/2026), rupiah juga naik 0,15% ke Rp17.140 per dolar AS.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY)—yang ngukur kekuatan dolar terhadap mata uang utama dunia—pagi ini sedikit melemah 0,04% ke 98,353. Meski begitu, sebelumnya indeks ini sempat naik cukup kencang 0,30%.
Kenapa rupiah bisa menguat?
Pergerakan rupiah masih banyak dipengaruhi faktor global. Salah satunya, minat investor ke dolar AS yang masih tinggi karena dianggap sebagai aset “aman” di tengah ketidakpastian soal negosiasi damai antara AS dan Iran.
Selain itu, pernyataan calon bos bank sentral AS (The Fed), Kevin Warsh, juga ikut memengaruhi pasar. Dia memberi sinyal kalau suku bunga AS kemungkinan masih akan bertahan tinggi. Ditambah lagi, kondisi ekonomi AS yang masih solid bikin dolar tetap menarik di mata investor.
Situasi ini sebenarnya bikin ruang penguatan mata uang lain, termasuk rupiah, jadi agak terbatas.
Fokus ke RDG BI
Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar lagi tertuju ke hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang bakal diumumkan hari ini.
Dari konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia, semua responden kompak memprediksi BI bakal menahan suku bunga acuan di level 4,75%.
Pandangan ini juga sejalan dengan Kepala Ekonom Maybank Indonesia, Juniman. Menurut dia, BI masih belum punya ruang yang cukup aman untuk menurunkan suku bunga.
Alasannya? Tekanan terhadap rupiah masih ada, ditambah kondisi pasar global yang belum stabil dan tensi geopolitik yang lagi memanas—terutama terkait konflik Iran, Israel, dan AS.
Intinya, meski rupiah lagi menguat tipis, pergerakannya masih bakal sangat dipengaruhi faktor global dan keputusan BI ke depan.
