Pelemahan pasar saham akibat memanasnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran justru bisa membuka peluang bagi beberapa emiten di sektor energi.
Di tengah kondisi pasar yang sedang tertekan, investor dinilai masih bisa memanfaatkan sentimen positif dari saham-saham energi.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan sektor energi menjadi pihak yang paling diuntungkan ketika harga minyak dan batu bara naik.
“Emiten migas seperti APEX, ENRG, ELSA, dan MEDC berpotensi mendapat sentimen positif. Begitu juga dengan emiten batu bara seperti AADI, ADRO, ITMG, dan PTBA,” kata Hendra kepada IDX Channel, Rabu (4/3/2026).
Menurutnya, sektor komoditas biasanya cenderung lebih defensif ketika inflasi energi meningkat. Sebaliknya, beberapa sektor lain seperti transportasi, logistik, manufaktur, dan konsumer justru perlu diwaspadai karena kenaikan biaya energi bisa menekan margin perusahaan sekaligus daya beli masyarakat.
Karena itu, investor disarankan tetap menjaga keseimbangan antara sikap hati-hati dan kemampuan melihat peluang.
“Tidak perlu panik, tapi juga jangan terlalu agresif,” ujarnya.
Hendra juga mengingatkan investor untuk lebih selektif dalam memilih saham, terutama emiten yang memiliki fundamental kuat dan arus kas yang sehat. Selain itu, disiplin dalam mengatur risiko juga menjadi hal penting.
Di tengah situasi pasar yang penuh ketidakpastian seperti sekarang, menurutnya kualitas portofolio dan pengaturan porsi investasi jauh lebih penting dibanding sekadar mengejar momentum jangka pendek.
Ke depan hingga akhir Maret, pergerakan IHSG diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama: harga minyak dan stabilitas rupiah. Selama harga minyak Brent masih berada di bawah USD90 per barel, tekanan di pasar kemungkinan masih sebatas volatilitas jangka pendek.
Namun jika harga minyak mendekati USD100 per barel dan terjadi gangguan distribusi di Selat Hormuz, pasar berpotensi masuk ke fase risk-off yang lebih dalam.
Secara teknikal, area 7.500–7.600 dinilai menjadi zona penopang psikologis penting bagi IHSG.
“Kalau ketegangan mereda dan rupiah stabil, IHSG berpeluang rebound bertahap ke kisaran 7.900–8.100 di akhir Maret. Tapi kalau konflik makin meluas dan tekanan fiskal meningkat, indeks masih berisiko turun lagi ke area 7.400,” jelas Hendra.
Sementara itu, IHSG sendiri ditutup melemah ke level 7.577 pada perdagangan Rabu (4/3/2026), atau terkoreksi sekitar 4,57 persen.
Berdasarkan data RTI Business pada pukul 16.03 WIB, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 7.897 dan terendah di 7.486. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp29,72 triliun dengan volume perdagangan sekitar 53,61 miliar saham.
Sebanyak 734 saham berada di zona merah, sementara hanya 54 saham yang menguat dan 33 saham lainnya stagnan. Kapitalisasi pasar juga turun menjadi Rp13.549,4 triliun.
Mayoritas sektor ikut mengalami pelemahan, mulai dari bahan baku, properti, konstruksi, hingga perbankan.
Di sektor market resources, saham INCO tercatat turun cukup dalam hingga 10,07 persen. Sementara di sektor properti, saham SSIA melemah 7,97 persen, dan di sektor konstruksi saham SMGR turun sekitar 8,09 persen.
