JAKARTA — Sejumlah fund manager global mulai ramai mengoleksi saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sejak awal 2026. Beberapa nama besar seperti Vanguard dan BlackRock tercatat aktif menambah kepemilikan mereka, terutama saat harga saham BBCA sedang terkoreksi.
Sejak awal tahun, saham BBCA memang sempat turun sekitar 12% secara year to date. Namun pada perdagangan Kamis (5/3/2026), saham bank swasta terbesar di Indonesia ini kembali menguat 3,27% dan ditutup di level Rp7.100 per saham.
Analis BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis, menilai prospek BBCA masih tetap solid meskipun industri perbankan diperkirakan menghadapi tantangan penurunan margin bunga bersih (NIM) pada 2026.
Dalam risetnya, BRIDS memperkirakan Pendapatan Operasional Sebelum Pencadangan (PPOP) BBCA bisa mencapai sekitar Rp79,58 triliun pada 2026, naik sekitar 5,73% dibandingkan 2025.
Sementara itu, laba bersih BBCA diproyeksikan menembus Rp60 triliun, atau tumbuh sekitar 5,35% secara tahunan.
Meski begitu, margin bunga bersih BCA diperkirakan akan sedikit tertekan karena penurunan yield kredit. Manajemen BBCA sendiri memproyeksikan NIM berada di kisaran 5,4%–5,6%, dengan pertumbuhan kredit sekitar 8%–10% serta biaya kredit yang relatif stabil di kisaran 0,4%–0,5%.
Untuk menjaga profitabilitas, BCA diperkirakan akan lebih mengandalkan efisiensi operasional serta peningkatan pendapatan dari fee based income. Rasio biaya terhadap pendapatan (CIR) juga diproyeksikan bisa membaik ke kisaran 31%–33% dalam beberapa tahun ke depan.
BRIDS pun masih mempertahankan rekomendasi “Beli” untuk saham BBCA dengan target harga Rp11.400, lebih tinggi dari target sebelumnya Rp10.800.
Saat ini, saham BBCA diperdagangkan pada valuasi sekitar 3,11 kali price to book value (PBV). Angka ini tergolong lebih murah dibandingkan rata-rata valuasi dalam 10 tahun terakhir yang berada di kisaran 3,6–4,2 kali PBV.
Sementara itu, data Bloomberg menunjukkan beberapa fund manager global aktif menambah kepemilikan saham BBCA sejak awal tahun.
Salah satu yang paling agresif adalah St. James’s Place plc (SJP), perusahaan manajemen aset asal Inggris dengan assets under management (AUM) sekitar £220 miliar atau setara Rp4.962 triliun. Sepanjang 2026, SJP telah membeli sekitar 121,5 juta saham BBCA, sehingga total kepemilikannya kini mencapai 458,23 juta saham. SJP bahkan sudah masuk dalam 15 besar pemegang saham BBCA.
Di posisi berikutnya ada Capital Group, fund manager asal Amerika Serikat dengan total dana kelolaan lebih dari US$3 triliun. Sepanjang tahun ini, Capital Group tercatat membeli sekitar 112,83 juta saham BBCA, sehingga total kepemilikannya mencapai sekitar 1,07 miliar saham atau setara 0,87% dari total saham BBCA.
Kemudian ada Principal Financial Group yang juga menambah sekitar 36,79 juta saham BBCA, sehingga saat ini menguasai sekitar 235,47 juta saham.
Nama besar lainnya seperti Vanguard dan BlackRock juga ikut menambah kepemilikan mereka. Vanguard tercatat membeli sekitar 35,02 juta saham, sementara BlackRock mengakumulasi sekitar 32 juta saham BBCA.
Saat ini, Vanguard menjadi pemegang saham terbesar keempat di BBCA dengan kepemilikan sekitar 2,66 miliar saham atau setara 2,16% dari total saham.
Sementara itu, BlackRock menempati posisi pemegang saham terbesar kelima, dengan kepemilikan sekitar 1,88 miliar saham atau sekitar 1,53%.
Masuknya sejumlah fund manager global ini menunjukkan bahwa saham BBCA masih dianggap menarik oleh investor institusi besar, terutama saat harganya sedang berada di level yang lebih rendah dibandingkan valuasi historisnya.
