Jakarta — Saham-saham emiten emas dan tambang logam mulia kompak turun pada perdagangan Rabu (25/3/2026), bahkan ada yang jatuh cukup dalam. Padahal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru lagi naik dan menghijau setelah libur panjang Nyepi dan Idulfitri.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan, sampai penutupan sesi I, saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) turun tajam 9,74% ke Rp8.575 per saham. Disusul PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) yang turun 4,72% ke Rp505, dan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) yang melemah 4,06% ke Rp1.535.
Tekanan juga terasa di saham lain seperti ANTM yang turun 2,93%, MDKA 2,11%, dan HRTA yang melemah 1,99%. Tapi nggak semua merah—AMMN dan BRMS justru naik masing-masing sekitar 7%.
Turunnya saham-saham emas ini diduga karena efek perubahan indeks global yang bikin investor harus menyesuaikan portofolio mereka. Selain itu, ini juga jadi respons dari turunnya harga emas dunia beberapa hari sebelumnya.
Sebelumnya, EMAS, ARCI, dan PSAB masuk dalam rebalancing indeks global MVIS Global Junior Gold Miners Index, yang jadi acuan ETF VanEck Junior Gold Miners (GDXJ). Perubahan ini mulai berlaku sejak 20 Maret 2026.
Biasanya, kalau ada rebalancing kayak gini, dana-dana pasif global bakal ikut jual-beli saham untuk menyesuaikan komposisi. Nah, ini yang sering bikin harga saham jadi lebih volatile dalam jangka pendek.
Di sisi lain, ada kabar menarik dari EMAS. Perusahaan ini lagi mengajukan IPO di bursa Hong Kong.
Tujuannya buat menjaring investor global dan cari tambahan modal, apalagi produksi dari tambang andalannya, Pani Gold Mine, terus meningkat.
Dalam dokumen yang diajukan ke Bursa Hong Kong, EMAS bilang listing di sana bisa bantu meningkatkan profil mereka di mata investor institusi global. Untuk proses IPO ini, UBS dan Citic Securities ditunjuk sebagai penjamin emisi.
Menariknya, di saat saham-saham emas turun, harga emas dunia justru mulai bangkit lagi.
Menurut data Trading Economics, harga emas naik di atas USD4.500 per ons pada Rabu, melanjutkan kenaikan dua hari berturut-turut. Ini dipicu harapan meredanya konflik di Timur Tengah, setelah muncul kabar kalau Amerika Serikat mulai membuka jalur negosiasi dengan Iran.
Media Israel menyebut AS sedang mengupayakan gencatan senjata selama satu bulan, sementara laporan lain menyebut sudah ada proposal perdamaian yang diajukan ke Iran.
Optimisme ini muncul meski Presiden AS Donald Trump tetap mengirim tambahan pasukan ke Timur Tengah sebagai langkah antisipasi terkait ketegangan di Selat Hormuz.
Sebelumnya, harga emas sempat anjlok sampai 25% dari puncaknya karena lonjakan harga energi akibat konflik Iran. Hal ini memicu kekhawatiran inflasi dan bikin ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
Bahkan, pejabat The Fed, Michael Barr, menegaskan suku bunga kemungkinan harus tetap tinggi untuk menjaga inflasi, yang jadi sentimen negatif buat emas dalam jangka pendek.
Sementara itu, pasar saham Indonesia secara keseluruhan justru bergerak positif.
IHSG naik 1,30% ke level 7.199,20 setelah kembali dibuka pascalibur panjang. Meski begitu, dalam sebulan terakhir IHSG masih turun sekitar 13%.
Penurunan ini dipicu kombinasi faktor global dan domestik, mulai dari konflik Timur Tengah yang bikin harga minyak naik, sampai kekhawatiran soal kondisi fiskal Indonesia dan isu dari MSCI terkait status investabilitas yang masih dalam pembahasan dan ditunggu hasil akhirnya pada Mei nanti.
