Jakarta – Harga Bitcoin (BTC) menunjukkan tren penguatan dalam sepekan terakhir. Pada Kamis (14/1), harga aset kripto terbesar ini sempat menembus level US$ 96.232 atau setara Rp 1,62 miliar dengan asumsi kurs Rp 16.909. Kenaikan tersebut didorong sentimen positif dari data inflasi Amerika Serikat (AS) yang dinilai lebih terkendali.
Mengacu data CoinMarketCap, Minggu (18/1), BTC memang sempat terkoreksi sekitar 4,88% ke level US$ 95.020 atau sekitar Rp 1,60 miliar pada pukul 14.57 WIB. Meski begitu, secara mingguan pergerakan Bitcoin masih terbilang kuat. Sejalan dengan itu, Ethereum (ETH) juga mencatatkan kenaikan 6,92% ke level US$ 3.305 atau setara Rp 55,88 juta.
Penguatan ini terjadi setelah rilis data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS untuk Desember yang menunjukkan inflasi inti masih cukup jinak. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS, The Fed, berpeluang menahan suku bunga dalam waktu dekat.
Data mencatat CPI AS naik 0,3% secara bulanan dan 2,7% secara tahunan. Sementara inflasi inti hanya naik 0,2% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan. Angka-angka ini dinilai memberi angin segar bagi aset berisiko, termasuk kripto.
Dari sisi industri, sentimen positif juga datang dari arah regulasi kripto di AS. Kehadiran draf Rancangan Undang-Undang Digital Asset Market CLARITY Act dinilai memberi kejelasan soal klasifikasi aset kripto sebagai sekuritas atau komoditas, sekaligus memperluas peran Commodity Futures Trading Commission (CFTC) dalam mengawasi pasar spot kripto.
“Pasar melihat sinyal bahwa tekanan kebijakan moneter mulai mereda, sementara regulasi kripto di AS bergerak ke arah yang lebih konstruktif. Kepastian regulasi ini krusial untuk mendorong masuknya modal institusional, dan itu mulai diantisipasi pelaku pasar,” kata Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (18/1/2026).
Peluang Bitcoin Tembus US$ 100.000
Secara teknikal, Fyqieh menjelaskan Bitcoin sudah keluar dari fase konsolidasi sejak akhir 2025. Selama harga mampu bertahan di atas level support US$ 94.000, peluang penguatan menuju area US$ 100.000 atau sekitar Rp 1,69 miliar masih terbuka.
Arus dana institusional menjadi salah satu penopang utama. Tercatat, aliran dana ke ETF Bitcoin spot di AS sempat menembus lebih dari US$ 750 juta dalam satu hari, tertinggi sejak Oktober 2025.
“Area US$ 94.000 kini menjadi support kuat. Selama level ini mampu dijaga, peluang Bitcoin untuk kembali menguji level psikologis US$ 100.000 tetap besar,” ujarnya.
Jika BTC berhasil menembus dan bertahan stabil di atas US$ 100.000, level tersebut berpotensi menjadi pijakan baru untuk melanjutkan fase penemuan harga ke area yang lebih tinggi. Namun, jika gagal bertahan, pasar berpotensi diwarnai aksi ambil untung dan volatilitas yang lebih tinggi.
“Dalam jangka pendek, investor perlu bersiap dengan volatilitas yang meningkat dan pergerakan harga yang sangat sensitif terhadap berita, terutama di sekitar area US$ 100.000,” pungkas Fyqieh.
