Trump Wacanakan Kuasai Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Ikut Turun

Trump Wacanakan Kuasai Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Ikut Turun

Harga minyak dunia akhirnya turun cukup tajam di akhir perdagangan Senin (9/3/2026) waktu AS atau Selasa (10/3/2026) pagi WIB. Penurunan ini terjadi setelah sebelumnya harga minyak sempat melonjak mendekati level US$120 per barel.

Salah satu pemicunya adalah pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengatakan pemerintahannya sedang mempertimbangkan untuk mengambil alih kendali Selat Hormuz. Jalur ini dikenal sebagai salah satu rute pelayaran paling penting bagi perdagangan minyak dunia.

Dikutip dari CNBC, harga minyak mentah Brent turun 4,6% ke level US$88,43 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun lebih dalam, yakni 6,19% ke posisi US$85,27 per barel.

Trump mengatakan kepada CBS News melalui sambungan telepon bahwa kapal-kapal saat ini masih bisa melintasi Selat Hormuz. Namun, ia mengungkapkan bahwa pemerintah AS sedang mempertimbangkan untuk mengambil alih jalur tersebut.

“Saya sedang memikirkan untuk mengambil alihnya,” kata Trump.

Ia juga memberi sinyal bahwa konflik yang sedang terjadi kemungkinan tidak akan berlangsung lama. Selain itu, menurut tiga sumber yang mengetahui pembahasan tersebut kepada Reuters, pemerintah AS juga mempertimbangkan untuk mengurangi sanksi minyak terhadap Rusia sebagai cara untuk membantu menekan harga minyak global.

Sebelumnya, harga minyak memang sempat melonjak tajam. Pada perdagangan sebelumnya, minyak Brent naik sekitar 6,76% dan ditutup di level US$98,96 per barel setelah sempat menyentuh US$119,50 dalam satu sesi perdagangan.

Sementara itu, minyak mentah WTI ditutup naik 4,26% ke level US$94,77 per barel. Bahkan pada perdagangan malam, harganya sempat melesat hingga US$119,48 per barel.

Lonjakan ini terjadi setelah negara-negara Arab di kawasan Teluk memangkas produksi minyak. Langkah tersebut diambil karena kapasitas penyimpanan mereka mulai penuh. Hal ini terjadi karena kapal-kapal pengangkut minyak kesulitan melintasi Selat Hormuz akibat ancaman dari Iran.

Kenaikan tersebut juga menandai pertama kalinya harga minyak menembus level US$100 per barel sejak Rusia menginvasi Ukraina pada 2022.

Di sisi lain, para menteri energi negara-negara G7 dijadwalkan menggelar pertemuan virtual pada Selasa untuk membahas kemungkinan melepas cadangan minyak strategis mereka secara bersama-sama. Tujuannya adalah untuk menambah pasokan minyak di pasar global.

Anggota G7 terdiri dari Kanada, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat.

Dalam pernyataan bersama, para menteri keuangan G7 mengatakan mereka siap mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas pasokan energi dunia.

“Kami siap mengambil langkah yang diperlukan, termasuk mendukung pasokan energi global melalui pelepasan cadangan minyak,” tulis mereka dalam pernyataan bersama.

Penutupan Selat Hormuz sendiri dinilai sebagai salah satu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah, menurut analisis perusahaan konsultan Rapidan Energy. Sekitar 20% konsumsi minyak dunia dikirim melalui jalur tersebut.

Wakil Presiden Pasar Minyak Rystad Energy, Janiv Shah, mengatakan harga minyak Brent berpotensi melonjak hingga US$135 per barel jika kondisi seperti sekarang berlangsung selama empat bulan.

“Jika situasi ini bertahan dua bulan saja, harga minyak Brent bisa menembus US$110 per barel,” tulis Shah dalam catatannya.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.