Usai Lonjakan 3% sejak Konflik Iran, Dolar AS Kini Mulai Turun

Usai Lonjakan 3% sejak Konflik Iran, Dolar AS Kini Mulai Turun

New York — Dolar AS mulai melemah pada Senin (16/3/2026) setelah sempat menguat cukup tajam dalam beberapa waktu terakhir. Pelemahan ini terjadi karena reli dolar mulai “istirahat”, sementara pasar masih fokus pada perkembangan perang di Iran dan sejumlah keputusan suku bunga bank sentral yang akan diumumkan minggu ini.

Mengutip Investing.com, indeks dolar AS—yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia—turun sekitar 0,5% ke level 99,86.

Di saat yang sama, beberapa mata uang utama lainnya justru menguat.

  • EUR/USD naik sekitar 0,9% ke 1,1512

  • GBP/USD naik 0,7% ke 1,3322

Dolar sempat melonjak karena konflik Iran

Selama dua minggu terakhir, dolar sebenarnya sempat menguat cukup signifikan. Penguatan ini terjadi sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada akhir Februari.

Konflik tersebut memicu lonjakan harga minyak yang kemudian meningkatkan kekhawatiran inflasi global. Kondisi ini membuat pasar memperkirakan suku bunga bisa tetap tinggi lebih lama, dan biasanya situasi seperti ini cenderung menguatkan dolar AS.

Sejak konflik dimulai, Indeks Dolar bahkan sempat melonjak sekitar 2,8% dan berhasil menembus level psikologis 100 pada perdagangan Jumat lalu.

Analis pasar senior Trade Nation, David Morrison, mengatakan pelemahan dolar saat ini lebih karena pasar sedang mengambil jeda setelah kenaikan tajam minggu lalu.

Menurutnya, indeks dolar sempat menembus level 100, yang sebelumnya cukup sulit dilewati. Bahkan pada Jumat lalu, indeks ditutup di atas level tersebut dan mendekati posisi tertingginya dalam hampir 10 bulan.

Namun pada perdagangan Senin pagi, indeks kembali turun ke bawah 100. Meski begitu, investor masih terus memantau apakah pada reli berikutnya dolar bisa kembali menembus dan bertahan di atas level tersebut.

Pasar menunggu keputusan bank sentral

Pergerakan dolar minggu ini juga sangat dipengaruhi oleh agenda penting dari sejumlah bank sentral besar dunia.

Beberapa bank sentral yang dijadwalkan mengumumkan kebijakan moneternya minggu ini antara lain:

  • Federal Reserve (The Fed)

  • Bank Sentral Eropa (ECB)

  • Bank of Japan

  • Bank of England

Para pembuat kebijakan saat ini sedang menghadapi dilema baru: inflasi berpotensi naik lagi akibat lonjakan harga minyak sejak perang Iran pecah.

Harga energi diperkirakan bisa semakin tinggi karena konflik di Timur Tengah berpotensi mengganggu pasokan minyak, terutama dari jalur penting seperti Selat Hormuz di selatan Iran.

Selat ini merupakan jalur pengiriman energi yang sangat krusial karena sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati wilayah tersebut. Jika distribusi terganggu, harga energi global bisa melonjak.

Dengan ancaman inflasi tersebut, muncul spekulasi bahwa The Fed dan bank sentral lainnya mungkin harus mempertimbangkan kembali arah kebijakan suku bunga mereka.

Suku bunga yang tinggi biasanya menarik lebih banyak investasi asing ke AS, yang pada akhirnya bisa memperkuat dolar.

Upaya membuka Selat Hormuz

Di tengah konflik yang terus memanas, Presiden AS Donald Trump juga dilaporkan meminta sejumlah negara membantu membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Namun saat berbicara kepada wartawan di Air Force One pada Minggu, Trump tidak menyebutkan apakah ada negara yang sudah menyetujui permintaan tersebut.

Beberapa sekutu AS, terutama negara-negara anggota NATO, dilaporkan masih ragu untuk ikut terlibat dalam upaya tersebut.

Trump bahkan mengatakan kepada Financial Times bahwa negara anggota NATO seharusnya ikut membantu membuka jalur tersebut. Ia juga memperingatkan bahwa akan menjadi hal buruk bagi masa depan NATO jika sekutu-sekutu AS menolak membantu.

Analis dari ING menilai hingga akhir pekan lalu belum ada tanda-tanda situasi di Timur Tengah akan segera mereda.

Menurut mereka, upaya Trump membentuk koalisi angkatan laut untuk membuka Selat Hormuz justru menunjukkan bahwa konflik ini kemungkinan tidak akan berakhir dalam waktu dekat

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.