Naik 5%, Harga Minyak Dipengaruhi Kekhawatiran Pasokan Global

Harga Minyak Melonjak Hampir 5% di Tengah Kekhawatiran Pasokan

Harga minyak global menutup perdagangan Rabu (11/3/2026) dengan lonjakan hampir 5%, setelah serangan terbaru terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz memperburuk kekhawatiran soal gangguan pasokan.

Meski Badan Energi Internasional (IEA) mengusulkan pelepasan cadangan minyak dalam jumlah rekor, para analis menilai langkah ini belum cukup meredakan tekanan pasar.

  • Brent naik 4,8% ke USD91,98 per barel

  • WTI AS naik 4,6% ke USD87,25 per barel

Menurut laporan Reuters, tiga kapal lagi terkena proyektil di Selat Hormuz, yang hampir membuat aktivitas pelayaran di jalur sempit ini berhenti total sejak serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari. Jalur ini mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga gangguan di sana langsung mendorong harga minyak ke level tertinggi sejak 2022.

Presiden AS Donald Trump menyatakan negaranya siap mengawal kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz jika diperlukan. Namun, sejumlah sumber menyebut Angkatan Laut AS menolak permintaan pengawalan militer karena risiko serangan masih terlalu tinggi.

Sementara itu, IEA merekomendasikan pelepasan 400 juta barel minyak, langkah terbesar dalam sejarah mereka, untuk menekan harga energi yang sudah naik lebih dari 25% sejak perang dimulai. Angka ini lebih dari dua kali lipat cadangan yang dilepas pada 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina, tapi analis menilai masih belum cukup untuk menutup potensi kehilangan pasokan akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

Menurut analis Macquarie, jumlah itu setara dengan sekitar empat hari produksi minyak global atau 16 hari volume minyak yang biasanya lewat Teluk.

Harga minyak juga tetap tinggi meski pemerintah AS melaporkan persediaan minyak mentah meningkat lebih besar dari perkiraan. Stok bensin dan bahan bakar lainnya justru turun lebih besar dari prediksi.

Gangguan Infrastruktur Energi Terus Terjadi

Perusahaan minyak negara Abu Dhabi, ADNOC, menutup kilang Ruwais setelah kebakaran akibat serangan drone. Insiden ini jadi gangguan terbaru di sektor energi yang terdampak konflik Iran.

Arab Saudi mencoba meningkatkan pasokan lewat jalur Laut Merah, tapi data pelayaran menunjukkan volume tambahan itu belum cukup menggantikan penurunan aliran minyak dari Selat Hormuz. Kerajaan itu memanfaatkan pelabuhan Yanbu untuk menambah ekspor, sementara negara tetangga seperti Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab sudah menurunkan produksinya lebih dulu.

Konsultan energi Wood Mackenzie memperkirakan perang ini memangkas pasokan minyak dan produk turunannya sekitar 15 juta barel per hari, yang bisa mendorong harga minyak mentah hingga USD150 per barel. Morgan Stanley menambahkan, “Meski konflik cepat mereda, gangguan pasar energi kemungkinan masih terasa beberapa pekan ke depan.”

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.