Purbaya: Rupiah Tak Hancur, Melemah Saat Perang Hanya 0,3%

Purbaya: Rupiah Tak Hancur, Melemah Saat Perang Hanya 0,3%

BFDCnews.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis anggapan bahwa nilai tukar rupiah sedang “hancur” akibat memanasnya konflik di Timur Tengah.

Di hadapan Presiden Prabowo Subianto, Purbaya menegaskan bahwa ketahanan rupiah terhadap gejolak global masih tergolong kuat jika melihat data fundamental ekonomi.

Menurutnya, jika melihat data historis, pelemahan rupiah saat terjadi konflik global sebenarnya relatif kecil dan tidak sedramatis yang sering dibicarakan.

“Kalau kita lihat dinamika global memang gonjang-ganjing mengganggu semuanya. Ada yang bilang rupiah hancur. Tapi kalau kita lihat betul, setiap perang rupiah hanya terdepresiasi sekitar 0,3%. Jadi sebetulnya daya tahan kita bagus,” ujar Purbaya dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, dikutip Minggu (15/3/2026).

Ia juga menyinggung bahwa pandangan negatif tersebut sering datang dari pihak yang tidak benar-benar melihat kondisi pasar secara langsung.

“Yang real, pemain yang punya duit betul, bilangnya seperti ini. Tapi yang nggak punya duit kali Pak yang jelek-jelekin,” lanjutnya.

Purbaya menjelaskan, kondisi ekonomi seharusnya dinilai dari indikator risiko yang nyata. Salah satunya adalah Credit Default Swap (CDS) tenor 5 tahun Indonesia yang masih stabil. Selain itu, selisih imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dengan obligasi pemerintah AS (US Treasury) juga hanya bergerak tipis.

“Kalau kita lihat CDS IDR 5 year masih relatif stabil. Lalu di grafik kanan atas itu adalah spread SBN terhadap treasury,” jelasnya kepada Presiden.

Menurutnya, indikator tersebut menunjukkan bahwa investor asing masih percaya terhadap kondisi ekonomi Indonesia.

“Artinya asing masih percaya ke kita. Yang domestik saja yang nggak percaya Pak. Terus bukan domestik saja, pengamat domestik yang nggak percaya,” ujarnya.

Kepercayaan investor global juga terlihat dari arus modal yang masuk ke pasar keuangan Indonesia. Meski sempat ada dana keluar dari instrumen SBN sekitar Rp0,7 triliun pada Maret, jumlah tersebut tertutup oleh aliran dana masuk di instrumen lain.

Tercatat, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menarik dana sekitar Rp2,2 triliun. Sementara pasar saham juga mencatat inflow dengan nilai yang sama, yakni Rp2,2 triliun.

“Jadi setelah goncang-goncang, di Maret sepertinya masih masuk ke sini Pak. Artinya mereka percaya betul bahwa fondasi kita bagus. Ini kalau investor-investor yang asli seperti ini Pak, karena mereka taruh uang,” kata Purbaya.

Melalui data tersebut, Purbaya ingin menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat dan tidak terlalu terpukul oleh sentimen geopolitik global, terutama bagi investor yang benar-benar menanamkan modalnya di dalam negeri.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.